Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Suherman
Analis Data Ilmiah BRIN

Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat ASEAN, Peraih medali emas CONSAL Award

Kartini: Memperjuangkan Emansipasi dengan Literasi (Bagian I)

Kompas.com - 14/04/2023, 05:30 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

APA yang terjadi bila literasi bertemu dengan seorang perempuan? Maka yang terjadi adalah revolusi mental yang sangat fundamental dalam membangun generasi atau peradaban.

Itulah yang terjadi pada sosok Kartini, tokoh emansipasi ini memiliki pikiran revolusioner setelah bersentuhan dengan literasi. Buku-buku yang dibacanya telah mengubah dirinya menjadi manusia baru di tanah Jawa.

Ia menyeru dan memperjuangkan emansipasi supaya wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam memaknai dunia.

Berbeda dengan revolusi yang dilakukan oleh lelaki yang sering kali berdarah-darah, dibarengi dentuman senjata, teriakan ajakan perang, dan hingar-bingar jargon heroik yang diikuti oleh erangan meregang nyawa dan jeritan kesakitan para korban.

Residu revolusi biasanya berupa dendam dan amarah yang tersimpan untuk dimuntahkan kembali berupa dendam yang diwarisi sampai bergenerasi. Tapi, revolusi yang dilakukan Kartini adalah revolusi sunyi melalui jalan literasi.

Kartini melakukan perjuangan dan pemberontakan terhadap adat dan budaya feodalisme dalam masyarakat Jawa, di mana kedukan seorang perempuan masih di bawah dominasi laki-laki.

Agama dijadikan alat untuk mempertahan hegemoni laki-laki atau menindas perempuan. Alat perjuangan yang digunakan oleh Kartini hanya satu, yaitu senjata literasi.

Tulisan ini seluruhnya bersumber pada buku Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duiternis Tot Licht) karya R.A. Kartini terbitan Narasi tahun 2018.

Pada waktu itu, Kartini menganggap semua laki-laki Jawa jahil kecuali bapaknya sendiri. Dalam usia yang masih muda, Kartini sudah memiliki pikiran dan obsesi besar untuk melakukan perubahan sosial terutama mengangkat derajat kaum perempuan yang masih tertindas dan terpinggirkan.

Kartini adalah kutu buku yang gemar sekali membaca, kesenangannya membaca sudah mendarah daging dalam hidupnya.

Kartini didewasakan oleh buku-buku yang dibacanya. “Dalam lemari kami, ketahuilah jika tiga dari empat papan di dalamnya penuh dengan buku.”

Apabila ia telah menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, segera ia memegang buku atau surat kabar. Ia membaca semua yang tertangkap oleh bola matanya.

Ia melahap semua bacaan. Banyak sekali buku yang dinikmatinya, buku yang dianggapnya bagus dan memesona dapat melupakan semua kepedihan dalam hidupnya.

Ide-ide besar, tabiat-tabiat baik, pendangan hidup mulia, jiwa dan pikiran besar yang dituangkan oleh para pengarang membuat hatinya berkobar-kobar kegirangan dan gemetar karena jiwanya ikut terbakar. Ia menghayati sepenuhnya semua yang dibacanya.

Kartini adalah perempuan jenius dan luar biasa karena pada waktu itu mayoritas pribumi masih buta huruf terlebih perempuan.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com