Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tradisi Megalitik: Asal-usul, Pembagian, dan Peninggalan

Kompas.com - 04/08/2021, 12:00 WIB
Widya Lestari Ningsih,
Nibras Nada Nailufar

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tradisi megalitik adalah suatu adat kebiasaan yang menghasilkan benda-benda atau bangunan dari batu yang berhubungan dengan upacara atau penguburan.

Bagunan monumental yang dihasilkan biasanya berkaitan dengan usaha para ketua adat untuk menjaga harkat dan martabat mereka.

Sebab, pendukung tradisi megalitik percaya bahwa arwah nenek moyang yang telah meninggal masih hidup di dunia arwah dan dapat memengaruhi kehidupan mereka.

Dengan perlakuan yang baik, mereka mengharapkan perlindungan sehingga selalu terhindar dari mara bahaya.

Asal-usul tradisi megalitik

Ada yang mengatakan bahwa tradisi megalitik berasal dari daerah Laut Tengah, sebagian lainnya percaya berasal dari Mesir.

Teori yang diakui adalah teori Von Heine Geldern, yang mengatakan bahwa tradisi megalitik berasal dari daerah Tiongkok Selatan dan disebarkan oleh bangsa Austronesia.

Migrasi bangsa Austronesia pada zaman neolitik (bercocok tanam) dan masa perunggu besi menyebabkan tradisi megalitik menyebar ke daerah-daerah yang dilalui.

Daerah persebarannya antara lain di Jepang, Formosa, Taiwan, Malaysia, Indonesia, hingga Pasifik.

Baca juga: Zaman Megalitikum: Peninggalan, Sejarah, Ciri, dan Kepercayaan

Pembagian tradisi megalitik

Berdasarkan bentuk peninggalannya, tradisi megalitik terbagi menjadi dua, yaitu:

  • Megalitik Tua, menyebar ke Indonesia pada zaman Neolithikum (2500-1500 SM) dan dibawa oleh pendukung Kebudayaan Kapak Persegi (Proto Melayu). Contoh bangunannya adalah menhir, dolmen, punden berundak, arca-arca statis.
  • Megalitik Muda, menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1000-100 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunannya adalah kubur batu, waruga, sarkofagus dan arca-arca dinamis.

Sedangkan berdasarkan masanya, tradisi megalitik dibedakan menjadi dua, yaitu:

  • Tradisi megalitikum yang berasal dari masa prasejarah dan umumnya berupa monumen yang tidak dipakai lagi. Seperti yang ditemukan di daerah Gunung Kidul, Bondowoso, dan Pasemah.
  • Tradisi megalitikum yang masih berlanjut dan umumnya ditemukan di daerah Nias, Toraja, Sumba, Sabu, Flores, dan Timor.

Peninggalan tradisi megalitik di Indonesia

Peninggalan tradisi megalitik di Indonesia dapat dijumpai di berbagai daerah.

Peninggalan tersebut mempunyai bentuk dan ukuran yang sangat beraneka ragam.

Terdapat ciri khas dari beberapa situs megalitik di Bali, Sumatera, dan Sulawesi.

Misalnya seperti tradisi megalitik di Bali yang terkenal dengan sarkofagusnya, Sulawesi Utara terkenal dengan waruga, dan Sumba terkenal dengan dolmennya.

Baca juga: Corak Kehidupan Manusia Zaman Prasejarah

Berikut ini contoh tradisi megalitik yang ditemukan di Indonesia.

  • Kubur Batu, yaitu wadah penguburan mayat yang terbuat dari batu.
  • Menhir atau batu tegak, adalah batu alam yang telah dibentuk untuk keperluan pemujaan atau untuk tanda penguburan.
  • Dolmen atau meja batu, adalah peninggalan yang terdiri dari sebuah batu besar yang ditopang oleh batu-batu berukuran lebih kecil sebagai kakinya.
  • Kalamba, yaitu kubur batu berbentuk silinder yang kebanyakan ditemukan di Sulawesi Tengah.
  • Pandusa, yaitu kubur batu yang ditopang batu-batu lain sebagai dinding kubur dan biasanya ditemukan di Bondowoso.
  • Sarkofagus, yaitu kubur batu yang terdiri dari wadah dan tutup yang umumnya terdapat tonjolan pada ujungnya, biasanya ditemukan di Bali.
  • Waruga, adalah kubur batu yang bentuknya seperti rumah dan biasanya ditemukan di daerah Minahasa.
  • Punden berundak, yaitu benda peninggalam yang berbentuk anak tangga, berfungsi sebagai pemujaan arwah nenek moyang dan dianggap suci.
  • Arca batu, yaitu pahatan berbentuk manusia atau binatang yang dipercaya sebagai wujud dari nenek moyang.
  • Arca menhir, yaitu pahatan berbentuk antropomorpik tanpa kaki yang hanya terdiri dari kepala, leher, dan badan.
  • Areosali, yaitu suatu teras yang biasa digunakan untuk memutuskan suatu perkara atau untuk mengesahkan suatu aturan yang berlaku di daerah Nias.
  • Neogadi, yaitu pahatan menyerupai meja batu berbentuk bulat yang biasa digunakan untuk menari pada waktu upacara di Nias.
  • Lasara, yaitu pahatan berupa kepala binatang khayal yang dianggap sebagai bianatang pelindung.

 

Referensi:

  • Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto (Eds). (2008). Sejarah Nasional Indonesia I: Zaman Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Sukendar, Haris. (1998). Album Tradisi Megalitik di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com