Persembahan Doa bagi Ibu Toeti Heraty

Kompas.com - 13/06/2021, 13:02 WIB
Penyair Toeti Heraty dan Sapardi Djoko Damono saat peluncuran buku  Kumpulan Puisi Perempuan Indonesia-Malaysia  dalam ajang Indonesia International Book Fair di Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (7/11/2014).
RADITYA HELABUMIPenyair Toeti Heraty dan Sapardi Djoko Damono saat peluncuran buku Kumpulan Puisi Perempuan Indonesia-Malaysia dalam ajang Indonesia International Book Fair di Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (7/11/2014).

GEGARA Corona saya sudah membiasakan diri saya sendiri yang sudah tergolong lansia sekaligus komorbid untuk setiap saat siap meninggalkan dunia fana ini.

Namun saya sungguh merasa terkejut dan sedih ketika menerima berita duka tentang wafatnya Ibu Toeti Heraty.

Baca juga: Toeti Heraty, Pendiri Jurnal Perempuan Sekaligus Guru Besar UI Meninggal Dunia

Belum lama berselang pada 11 September 2020, Prof Toeti masih sempat mewariskan pesan-pesan beliau melalui pertemuan zoom antara para tokoh filsafat Indonesia bersama Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, DR Hilmar Farid untuk menetapkan Hari Filsafat Indonesia sebagai kelanjutan hakiki Simposium Filsafat Indonesia di mana Prof Toeti ikut berperan utama bersama Prof Franz Magnis Suseno.

Bahkan secara pribadi Prof Toeti telah bermurah hati memberikan kehormatan bagi saya untuk menerima kiriman konsep Ensiklopedi Filsafat Indonesia yang telah lama beliau rancang dan kini sudah mendekati masa pewujudannya.

Mahakarya sastra Toeti Heraty sudah sedemikian adiluhur kandungan maknanya sehingga layak dinobatkan sebagai mahakarya filsafat berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan mahakarya Dante Alighieri, Umar Khayam, Rumi, Johann Wolfgang Goethe, Heinrich Heine, Paul Verlaine, Arthur Rimbaud, Emily Dickinson.

Saya pribadi tak pernah henti mengagumi energi lahir batin Prof Toeti Heraty yang seolah tak kenal batas maksimalnya dalam gigih berjuang membangun pilar-pilar kebudayaan Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam usia jauh lebih lanjut ketimbang saya yang sudah merasa tua ini, Prof Toeti Heraty masih memiliki daya ragawiah mau pun batiniah sama sekali tak gentar dibandingkan dengan para pemuda dan pemudi Indonesia yang disebut milineal.

Tentu saja perbendaharaan pengalaman yang telah dihimpun Prof Toeti Heraty sepanjang perjalanan hidup beliau mustahil dapat ditandingi oleh mereka yang lebih muda usia, apalagi saya.

Dengan bangga saya mengaku bahwa diri saya yang memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa ini memang sama sekali bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa untuk layak dibandingkan dengan Prof Toeti Heraty.

Saya merasa yakin bahwa bangsa Indonesia telah kehilangan seorang tokoh pemikir mahasakti mandraguna tiada dua di planet bumi ini.

Maka sebagai seorang insan warga Indonesia dengan penuh kerendahan hati saya bersujud demi memberanikan diri memanjatkan doa permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar berkenan menerima arwah Ibu Toeti Heraty di sisi Yang Maha Kuasa.


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X