Kompas.com - 09/04/2021, 06:50 WIB
Siklon Tropis Seroja dilihat dari Citra Satelit pada 8 April 2021, pukul 07.00 WIB. BMKGSiklon Tropis Seroja dilihat dari Citra Satelit pada 8 April 2021, pukul 07.00 WIB.

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan informasi prakiraan cuaca yang memperkirakan adanya cuaca ekstrem di sejumlah wilayah di Indonesia. 

Adapun kondisi tersebut merupakan dampak dari adanya siklon Tropis Seroja yang diprediksi mengalami peningkatan dalam 24 jam ke depan.

Menurut laporan terkini yang diterima Kompas.com, Kamis (8/4/2021) sore, ada empat provinsi yang berpotensi mengalami hujan lebat disertai kilat atau petir, dan angin kencang.

Empat wilayah tersebut meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Baca juga: Waspada, Berikut Prediksi Cuaca Ekstrem dan Daerah Potensi Rawan Longsor di Jawa Tengah

Gelombang tinggi

Tak hanya hujan lebat, BMKG juga menginformasikan mengenai adanya potensi gelombang setinggi 2,5 sampai 4 meter yang berpeluang terjadi di Perairan selatan Jawa, Samudra Hindia selatan Bali, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selanjutnya, ada juga potensi gelombang setinggi 4 hingga 6 meter yang terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berdasarkan analisis BMKG pada Kamis, (8/4/2021) pukul 07.00 WIB, posisi Siklon Tropis Seroja telah berada di Samudera Hindia sebelah selatan Bali atau 16.3 LS, 112.6 BT, atau sekitar 890 kilometer sebelah selatan-barat daya Denpasar.

Jika dilihat dari perkembangan arah geraknya, siklon tropis ini cenderung bergerak menuju ke barat-barat daya dengan kecepatan 16 knots atau 29 kilometer per jam menjauhi wilayah Indonesia.

Sedangkan, kekuatan siklon tropis terpantau 40 knots atau 75 kilometer per jam dengan tekanan 995 hPa.

Baca juga: Kapan Musim Kemarau Terjadi di Indonesia?

Prediksi untuk Jumat, 9 April 2021

Menurut prediksi BMKG dalam kurun waktu 24 jam atau pada Jumat, (9/4/2021) pukul 07.00 WIB, posisi Siklon Tropis Seroja akan berada di Samudera Hindia sebelah selatan Bali atau 18.7 LS dan 110.4 BT, atau sekitar 1.120 kilometer sebelah selatan barat daya Denpasar dan dipastikan menjauhi wilayah Indonesia.

Adapun kekuatannya diperkirakan akan mencapai 55 knots atau mencapai 100 kilometer per jam dengan tekanan 982 hPa.

Menilik adanya hasil analisa dan prakiraan cuacaa ekstrem dari BMKG tersebut, maka pemangku kebijakan di daerah diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk tindakan mitigasi dan pengurangan risiko bencana untuk ke depannya.

Selain itu, masyarakat juga diminta waspada dan dapat mengantisipasi segela sesuatu dalam kaitan potensi bencana yang dapat dipicu oleh faktor cuaca tersebut.

Baca juga: Banjir di Indonesia, Benarkah karena Curah Hujan dan Cuaca Ekstrem?

Analis BMKG tentang pola angin

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saepudin menjelaskan, pihaknya telah mendeteksi adanya pola angin siklonal di sekitar NTT yang dapat berdampak pada peningkatan signifikan pertumbuhan awan hujan dan potensi hujan lebat di wilayah NTT dan sekitarnya.

"Peringatan dini sebagai dampak dari keberadaan pola siklonal tersebut telah tertuang dalam produk peringatan dini cuaca 3 harian," ujar Miming saat dihubungi Kompas.com, Kamis (8/4/2021).

Ia menambahkan, pada 28 Maret 2021 hingga 6 April 2021 khususnya wilayah NTB-NTT telah masuk dalam wilayah yang diberikan peringatan dini untuk potensi hujan lebat sebagai dampak dari keberadaan sistem tekanan rendah tersebut.

Adapun Siklon Tropis Seroja mulai terbentuk pada 5 April 2021 jam 01.00 WIB di sekitar Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur.

"Ketika pertama kali terdeteksi sebagai pusat tekanan rendah di wilayah perairan ini, pada tanggal 2 April 2021," ujar Miming.

Baca juga: Penjelasan BMKG soal Dua Bibit Siklon Tropis

Terkait adanya siklon ini, kondisi atmosfer-laut di wilayah NTT yang signifikan cukup berpengaruh pada peningkatan pertumbuhan bibit siklon 99S menjadi siklon tropis Seroja.

Peningkatan dipengaruhi oleh suhu muka permukaan yang cukup hangat, kelembapan udara yang tinggi, dan suplai massa udara lembap, pola siklonal angin yang cukup kuat, serta shear vertikal yang lemah.

"Kondisi tersebut diperkuat dengan aktifnya beberapa gelombang atmosfer seperti Rossby Equatorial dan MJO di saat yang bersamaan," katanya lagi.

"Di mana saat itu MJO sedang aktif di fase 5 (wilayah Indonesia bagian tengan-timur) dan bersamaan dengan gelombang rossby ekutorial yang dapat memperkuat konvektifitas udara yang mendukung proses pertumbuhan siklon tropis lebih intens," lanjut dia.

Baca juga: Puluhan Warga di Banten Tersambar Petir, Mengapa Hal Itu Bisa Terjadi?

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Cara Tangani Dokumen agar Tak Rusak Parah karena Banjir


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X