Lebih Murah, Biaya Turunkan Presiden di Tengah Jalan?

Kompas.com - 28/12/2020, 14:50 WIB
Aksi Demo di Istana Negara, Jalan Merdeka Barat,  Rabu (24/7/2019). CYNTHIA LOVAAksi Demo di Istana Negara, Jalan Merdeka Barat, Rabu (24/7/2019).

Walau aturan konstitusional amat jelas, namun kehendak atau bahkan gerakan untuk menurunkan presiden yang memegang jabatan selalu hidup dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Mengapa ada fenomena seperti ini?

Perlu kita simak pendapat, pengalaman, pengamatan dari Presiden RI ke-6 (2004-20014) Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY). Mari kita buka kembali bukunya yang berjudul SBY-SELALU ADA PILIHAN. Buku tebal ini ditulis 2014.

Buku ini sampai sekarang adalah satu-satunya hasil langsung tulisan presiden RI ketika masih menjabat, walau menjelang masa jabatannya berakhir di periode kedua. SBY adalah satu-satunya (sekurang-kurangnya sampai 2020 ) dari tujuh presiden RI yang menuliskan sendiri sejumlah catatan tentang pengalamnnya menjadi presiden.

Menurut SBY, dalam sejarah Indonesia, beberapa pergantian presiden berlangsung tidak normal dan tidak reguler. Misalnya Bung Karno diturunkan setelah sidang istimewa MPR. Lihat halaman 171 sampai 177.

Suharto, katanya, terpaksa mundur karena tidak ada dukungan di parlemen, atau bahkan tidak ada dukungan dari para pembantunya. BJ Habibie, ujarnya lagi, memilih tidak mencalonkan lagi jadi presiden karena pertanggungjawabannya di MPR ditolak. Sementara, kata SBY, Gus Dur diberhentikan oleh MPR karena dinyatakan melakukan tindakan tidak konstitusional.

"Praktik dan preseden politik seperti inilah yang barangkali menginspirasi banyak kalangan yang memiliki pemikiran untuk menurunkan atau menjatuhkan seorang presiden di tengah jalan," demikian pendapat SBY, lima tahun lalu.

Alasan lain mengapa beberapa pihak selalu ingin menurunkan presiden di tengah jalan, karena belum matangnya demokrasi dan etika politik di negeri ini.
"Sejumlah kelompok tampaknya tidak selalu sabar menunggu dan mempersiapkan diri untuk berkompetisi pada pemilihan umum berikutnya," tuturnya.

"Barangkali itu dianggap terlalu lama. Sudah menunggu lima tahun, belum tentu pula akan menang. Dipikirnya lebih murah jika bisa menjatuhkan yang sedang menjabat dan kemudian ada peluang baru."

"Memang sederhana jalan pemikiran pihak-pihak seperti itu. Sederhana, tapi salah. Tidak mendidik. Tetapi itu realitasnya, dan itu sungguh terjadi," begitu kata Presiden ke-6 yang bisa selamat dari realitas politik seperti itu.

Aksi kecil di masa Jokowi

Apakah di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo masih hidup budaya atau keinginan spontan menurunkan kepala pemerintahan/negara di tengah jalan? Mungkin masih ada walau gerakan 'kecil'.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Viral Unggahan soal Strobo di Jogja, Hanya Disurati atau Ditilang Polisi?

Viral Unggahan soal Strobo di Jogja, Hanya Disurati atau Ditilang Polisi?

Tren
6 Destinasi Menarik Dekat Stasiun Lempuyangan Yogyakarta

6 Destinasi Menarik Dekat Stasiun Lempuyangan Yogyakarta

Tren
Memanfaatkan Penggunaan Kosmetik Kedaluwarsa, Bagaimana Caranya?

Memanfaatkan Penggunaan Kosmetik Kedaluwarsa, Bagaimana Caranya?

Tren
Ramai Hasil Prakerja Gelombang 12 Sudah Diumumkan, Ini Penjelasan Pelaksana Program

Ramai Hasil Prakerja Gelombang 12 Sudah Diumumkan, Ini Penjelasan Pelaksana Program

Tren
Ramai Twit Tugas Sekolah Unduh Snack Video dan Input Kode Referral, Ini Tanggapan Satgas Waspada Investasi

Ramai Twit Tugas Sekolah Unduh Snack Video dan Input Kode Referral, Ini Tanggapan Satgas Waspada Investasi

Tren
Setahun Virus Corona di Indonesia dan 'Kado' Masuknya Strain B.1.1.7

Setahun Virus Corona di Indonesia dan "Kado" Masuknya Strain B.1.1.7

Tren
Lolos Prakerja Harus Menautkan Rekening atau E-Wallet, Ini Caranya...

Lolos Prakerja Harus Menautkan Rekening atau E-Wallet, Ini Caranya...

Tren
Update Corona di Dunia 3 Maret: 10 Negara dengan Kasus Covid-19 Tertinggi | Malaysia Setujui Penggunaan Vaksin Sinovac

Update Corona di Dunia 3 Maret: 10 Negara dengan Kasus Covid-19 Tertinggi | Malaysia Setujui Penggunaan Vaksin Sinovac

Tren
Salatiga Disebut sebagai Kota Paling Toleran di Indonesia, Apa Indikatornya?

Salatiga Disebut sebagai Kota Paling Toleran di Indonesia, Apa Indikatornya?

Tren
Strain B.1.1.7 Ditemukan di Indonesia, Ini Penjelasan Satgas Covid-19

Strain B.1.1.7 Ditemukan di Indonesia, Ini Penjelasan Satgas Covid-19

Tren
Gejala Terkait dengan Mutasi Virus Corona B.1.1.7 yang Sudah Masuk Indonesia

Gejala Terkait dengan Mutasi Virus Corona B.1.1.7 yang Sudah Masuk Indonesia

Tren
Perjalanan Karier Rina Gunawan di Dunia Hiburan

Perjalanan Karier Rina Gunawan di Dunia Hiburan

Tren
Insentif Kartu Prakerja 2020 Tak Cair jika Tak Segera Lakukan Ini...

Insentif Kartu Prakerja 2020 Tak Cair jika Tak Segera Lakukan Ini...

Tren
Ingin Lapor SPT Tahunan tetapi Lupa EFIN? Ini 4 Cara Mengatasinya...

Ingin Lapor SPT Tahunan tetapi Lupa EFIN? Ini 4 Cara Mengatasinya...

Tren
Ramai soal Perpres Miras, Ini Penjelasan Mengapa Alkohol Memabukkan

Ramai soal Perpres Miras, Ini Penjelasan Mengapa Alkohol Memabukkan

Tren
komentar
Close Ads X