Nurani Kemanusiaan versus Nurani Kerakusan

Kompas.com - 28/12/2020, 14:28 WIB
Ilustrasi penyuntikan vaksin Covid-19. DPA/ILIYA PITALEV via DW INDONESIAIlustrasi penyuntikan vaksin Covid-19.

Tidak perlu diragukan lagi bahwa pagebluk Corona berdampak buruk terhadap ekonomi di planet bumi masa kini.

Namun pada masa pandemi memang ada yang dirugikan namun ada pula yang diuntungkan, yaitu industri farmasi khususnya industri vaksin.

Para industriwan farmasi berlomba-lomba menciptakan vaksin anti Corona yang sangat didambakan umat manusia di planet bumi. Ini terkesan merupakan prestasi saintifik yang menakjubkan.

Namun di sisi lain merupakan indikasi angkara murka kerakusan kapitalisme melalui industri vaksin demi mengeruk profit semaksimal mungkin.

Para negara miskin tidak akan mampu membeli vaksin untuk melindungi kesehatan rakyat masing-masing. Sedikitnya 1,7 miliar insan manusia termasuk anak-anak tidak terlindung dari angkara murka virus Corona.

Hak paten

Kesempatan meraup laba secara bukan alang-kepalang para produsen vaksin malah makin terlindungi oleh mekanisme kapitalisme yang mendominir pasar besar, dengan apa yang disebut sebagai hak paten.

Para perusahaan farmasi yang mampu membeli maka memiliki hak paten. Mereka akan mampu meningkatkan omset penjualan vaksin anti-Corona mereka dahsyat, akibat vaksin anti-Corona memang dibutuhkan oleh seluruh umat manusia di marcapada masa kini.

Bahkan dengan daya imun yang terbatas setahun seperti vaksin flu, maka setiap tahun para pemegang hak paten virus Corona berpeluang mengeruk keuntungan berkelanjutan dari miliaran umat manusia yang membutuhkan vaksin anti-Corona.

Bahwa telah ditemukan virus Corona jenis baru yang lebih ganas menularkan diri dari manusia ke manusia, dengan sendirinya akan dibutuhkan pula produk vaksin anti-Corona jenis baru yang potensial mempermahakayaraya para pemegang hak paten setiap vaksin, yang sebenarnya sudah cukup mahakayaraya.

Nurani kemanusiaan

Problematika distribusi diperparah kenyataan bahwa kapasitas produksi masing-masing produser vaksin sebenarnya terbatas. Mereka pasti tidak akan mampu memenuhi kebutuhan nyaris 8 miliar insan manusia di planet bumi.

Di sini dibutuhkan nurani kemanusiaan para perusahaan maharaksasa untuk melakukan jihad al nafs, menaklukkan naluri kerakusan diri sendiri, masing-masing, demi ikhlas tidak memonopoli hak paten masing-masing.

Keikhlasan kemanusiaan agar perusahaan-perusahaan farmasi lain dapat ikut memproduksi vaksin anti-Corona, demi gotong-royong melindungi 8 miliar insan manusia dari angkara murka kebengisan virus Corona, yang telah merenggut nyaris 2 juta nyawa manusia pada saat naskah ini ditulis.

Apakah di alam kapitalisme sedang menguasai dunia, nurani kemanusiaan mampu menaklukkan naluri kerakusan?

Jawaban sepenuhnya berada pada mereka yang memiliki hak paten vaksin anti Corona. Kalau mau pasti mampu. Jika tidak mampu, berarti tidak mau.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X