Refleksi Perekonomian Indonesia 2020 dan Harapan pada 2021...

Kompas.com - 19/12/2020, 18:02 WIB
Warga saat berbelanja di tengah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2020). Pedagang kembali meramaikan pasar Tanah Abang, saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali memperpanjang penutupan sementara Pasar Tanah Abang hingga 22 Mei 2020 untuk mengurangi kerumunan orang di ruang publik guna mencegah penyebaran COVID-19. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGWarga saat berbelanja di tengah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2020). Pedagang kembali meramaikan pasar Tanah Abang, saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali memperpanjang penutupan sementara Pasar Tanah Abang hingga 22 Mei 2020 untuk mengurangi kerumunan orang di ruang publik guna mencegah penyebaran COVID-19.

KOMPAS.com – Tahun 2020 membawa banyak cerita. Tak hanya cerita, tetapi perubahan pada seluruh aspek kehidupan masyarakat dunia.

Penyebaran virus corona telah mengubah banyak rencana dan situasi perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

Pada 2020 ini, Indonesia resmi mengalami resesi karena dampak pandemi Covid-19.

Bagaimana refleksi kondisi perekonomian Indonesia sepanjang tahun ini dan apa yang membuat kita bisa optimistis pada 2021? 

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan, sepanjang tahun ini, perekonomian Indonesia menunjukkan perlambatan yang signifikan.

Hal itu terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang melambat hingga di bawah 5 persen pada akhir tahun 2020.

“Pada tahun ini, di mana terjadi pandemi di seluruh dunia menyebabkan ekonomi Indonesia mengalami resesi. Begitu juga dengan perekonomi global yang juga mengalami resesi,” ujar Nailul, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (17/12/2020).

Baca juga: Kaleidoskop 2020: Babak Belur Ekonomi Dunia dan Upaya Tetap Bertahan

Ia menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus hingga 5,32 persen pada triwulan II 2020.

Angkanya sempat membaik, meski masih dalam kategori minus yaitu 3,49 persen.

Dampak dari minusnya pertumbuhan ekonomi ini, menurut Nailul, salah satunya adalah peningkatan angka pengangguran dan penduduk miskin.

Pada awal Desember 2020, Presiden Joko Widodo juga mengingatkan bahwa salah satu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan adalah besarnya angka pengangguran akibat PHK selama masa pandemi Covid-19.

Pada periode Agustus 2020, data Badan Pusat Statistik menyebutkan, jumlah pengangguran meningkat 2,67 juta orang sehingga total angkatan kerja di Indonesia yang tak memiliki pekerjaan berjumlah 9,77 juta orang.

Dalam situasi seperti ini, Nailul mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai tak fokus pada penanganan pandemi.

“Pemerintah Indonesia pun sebenarnya sudah mengetahui, namun yang dilakukan justru kontradiktif di mana sebagian besar negara-negara global berfokus pada penyelesaian pandemi. Akan tetapi, Pemerintah Indonesia justru mengajak orang untuk rekreasi yang menyebabkan potensi penyebaran sangat besar akibat kebijakan tersebut,” ujar Nailul.

Baca juga: Kaleidoskop 2020: Penelitian soal Awal Mula Virus Corona di Berbagai Negara

Ia khawatir, jika hal ini terus terjadi, maka perbaikan ekonomi akan berlangsung sangat lambat.

Menurut dia, pemerintah seharusnya fokus pada penanganan pandemi terlebih dulu. 

Meski demikian, ia menyatakan, masih ada harapan di tahun 2021.

Dengan adanya titik terang pelaksanaan vaksinasi Covid-19, hal ini turut membawa harapan bahwa perekonomian pada 2021 akan lebih baik, seiring terkendalinya penyebaran virus corona.

Oleh karena itu, ia berharap, program vaksin Covid-18 bisa berlangsung dengan baik, gratis untuk semua warga Indonesia, dan dilakukan secara merata.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: 10 negara yang jatuh ke jurang resesi


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X