Selain Presiden Peru, Ini 7 Kepala Negara dengan Masa Jabatan Singkat

Kompas.com - 17/11/2020, 15:30 WIB
Presiden interim Peru, Manuel Merino, mengundurkan diri pada Minggu (15/11/2020) yang dia umumkan melalui pidato di televisi. ISTANA KEPRESIDENAN PERU/LUIS IPARRAGUIRRE via APPresiden interim Peru, Manuel Merino, mengundurkan diri pada Minggu (15/11/2020) yang dia umumkan melalui pidato di televisi.

KOMPAS.com - Presiden Peru Manuel Merino mengundurkan diri pada Minggu (15/11/2020), meski baru menjabat selama lima hari. 

Sebelumnya, demo sempat dilakukan untuk menentang Merino dan pemecatan presiden sebelumnya.

Pengunduran diri Merino pun disambut dengan perayaan warga di Kota Lima. Para pendemo turun ke jalan sambil membunyikan klakson dan memukul teko.

Singkatnya masa jabatan sebagai pemimpin negara juga pernah dialami oleh sejumlah tokoh di negara lain.

Seorang pemimpin negaranya umumnya berkuasa selama setidaknya satu periode jabatan.

Namun, sejumlah kepala negara hanya dapat menjabat dalam waktu yang sangat singkat, mulai dari hitungan hari hingga menit saja.

Baca juga: Presiden Peru Manuel Merino Mundur Setelah 5 Hari Menjabat

Selain Merino, berikut deretan kepala negara di dunia dengan masa kekuasaan yang singkat:

1. Pedro Jose Domingo de la Calzada Manuel MMaria Lascurain Paredes (Meksiko)

Pedro Jose Domingo de la Calzada Manuel MMaria Lascurain Paredes menjadi Presiden ke-34 Meksiko pada 19 Februari 1913, selama kurang dari satu jam.

Pada 13 Februari 1913, Jenderal Victoriano Huerta melakukan kudeta yang menggulingkan Presiden ke-33 Meksiko Madero.

Lascurain adalah salah seorang yang bisa meyakinkan Madero untuk mengundurkan diri saat dia ditahan di Istana Nasional.

Lascurain mengatakan nyawa Madero terancam jika berkukuh mempertahankan jabatannya.

Di bawah konstitusi 1857, pengganti presiden adalah wapres, jaksa agung, menteri luar negeri, atau menteri dalam negeri.

Selain menyingkirkan Madero, Jenderal Huerta juga menyingkirkan Wapres Jose Maria Pino Suarez dan Jaksa Agung Adolfo Valles Baca.

Sehingga, untuk mendapatkan legalitas, Huerta menunjuk Lascurain, yang menjabat menteri luar negeri, sebagai presiden.

Setelah menjadi presiden, Lascurain menunjuk Huerta sebagai menteri dalam negeri yang artinya adalah dia merupakan calon presiden selanjutnya.

Setelah menunaikan tugasnya, Lascurain mengundurkan diri. Alhasil masa kepresidenan Lascurain hanya berlangsung antara 15-56 menit.

Baca juga: [HOAKS] Video Diklaim Kisah Dokter yang Kekasihnya Positif Covid-19, Faktanya Drama TV di Meksiko

2. Carlos Manuel Piedra (Kuba)

Carlos Manuel Piedra menjadi presiden sementara Kuba hanya selama 2-5 jam. Dia ditunjuk setelah Presiden Fulgencio Batista mundur pada 1 Januari 1959, disusul wakil presiden mundur sehari kemudian.

Sesuai konstitusi, Ketua Kongres seharusnya menjadi presiden baru Kuba, tetapi dia juga mengundurkan diri saat pasukan Fidel Castro bergerak menuju Havana.

Konstitusi mengatur dalam kondisi darurat semacam itu maka giliran menjadi presiden jatuh kepada hakim mahkamah agung yang tertua. Oleh karena itu, Piedra yang ditunjuk sebagai presiden sementara.

Setelah menjadi presiden untuk beberapa jam, Piedra kabur ke kedutaan besar AS untuk meminta perlindungan. Dia meninggal dunia pada 1988 dalam usia 93 tahun.

3. Siaka Stevens (Sierra Leone)

Siaka Stevens dilantik menjadi presiden Sierra Leone pada 21 Maret 1967 di Istana Gubernur Jenderal.

Namun, sekitar 30 menit setelah pelantikan, pemberontak menerobos masuk ke tempat itu dan menangkap Stevens.

Dia kemudian berhasil merebut kembali kekuasaan pada 1968 dan tetap menjadi presiden hingga 1985.

Baca juga: Surplus, Kuba Kirim Dokter ke Penjuru Dunia, Hampir ke 40 Negara

4. Roger La Fontant (Haiti)

Roger La Fontant menjabat sebagai presiden Haiti dalam waktu kurang dari 24 jam. 

Pada 1991, Presiden Herald Abraham mengundurkan diri. Sesuai undang-undang, seharusnya Ketua Mahkamah Agung Ertha Pascal Trouillot yang menjadi pejabat presiden.

Dia kemudian menggelar pemilihan presiden, tetapi La Fontant mengambil kesempatan untuk menggelar kudeta dan menguasai negeri itu.

Namun, dalam waktu 24 jam, terjadi perlawanan terhadap La Fontant yang berhasil mendudukkan kembali Trouillot ke posisinya.

LaFontant pun dijebloskan ke penjara hingga tewas dibunuh di dalam penjara pada akhir tahun 1991.

5. Skender Gjinushi (Albania)

Gjinushi menjadi Presiden Albania pada 24 Juli 1997 dengan masa jabatan antara 2-5 jam.

Pasca-berakhirnya rezim komunis, Albania diperintah Sali Berisha yang korup.

Pada 1997, Berisha kalah dalam pemilu, tetapi enggan meninggalkan jabatannya.

Akhirnya, parlemen menunjuk ketuanya, Skender Gjinushi menjadi presiden sementara selama beberapa jam di saat parlemen meresmikan Rexhep Meidani, pemenang pemilu, menjadi presiden negeri itu.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Gempa Bumi Terjang Haiti, 316 Ribu Orang Meninggal

6. Ratu Tevita Momoedonu (Fiji)

Ratu Tevita Momoedonu dua kali menjabat perdana menteri Fiji dalam waktu yang singkat.

Pertama kali, ia menjabat sebagai perdana menteri Fiji pada Mei 2000, hanya bertahan beberapa menit.

Momoedonu menjadi perdana menteri saat terjadi kudeta. Perdana menteri saat itu disandera di gedung parlemen.

Karena disandera, maka perdana menteri tidak bisa meminta presiden menjalankan pemerintahan. Saat itu, Momoedonu menjadi satu-satunya anggota kabinet yang tidak ada di gedung parlemen.

Presiden Mara kemudian memberhentikan PM Chaudhry yang disandera dan menunjuk Momoedonu sebagai pejabat baru.

Saat itu Momoedonu menyarankan presiden agar mengambil alih pemerintahan negara. Setelah presiden mengambil alih pemerintahan, Momoedonu mengundurkan diri.

Kali kedua Momoedonu menjadi perdana menteri Fiji adalah pada 2001. Pemerintahan secara konstitusional saat itu dinyatakan tak layak dipertahankan dan negara harus kembali ke pemerintahan terdahulu.

Presiden Fiji saat itu tak mau menunjuk Chaudry sebagai perdana menteri karena sudah tak memiliki suara mayoritas. Momoendonu kembali ditunjuk sebagai perdana menteri.

Meski menjabat dalam waktu sangat singkat, Momoendonu berhak mendapatkan pensiun seumur hidup sebesar 20 persen dari gaji perdana menteri.

Baca juga: Fiji Berencana Buka Travel Bubble dengan Australia dan Selandia Baru

7. Diosdado Cabella (Venezuella)

Diosdado Cabello hanya menjabat selama satu hari sebagai presiden Venezuela, yaitu pada tahun 2002. 

Saat itu, terjadi upaya kudeta untuk menggulingkan Hugo Chavez yang membuat sang presiden kerap tidak dapat menjalankan tugasnya.

Cabello mengambil sumpah jabatan sebagai presien pada 13 April 2020.

Ia mengatakan akan menjalankan jabatan tersebut hingga Hugo Chavez muncul dan bisa menjalankan tugasnya.

Beberapa jam setelah itu, Chavez muncul. Cabello pun menepati janjinya dan Chavez kembali menjadi presiden Venezuela. 


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X