Simak, Ini 5 Obat yang Diklaim Menjanjikan untuk Atasi Corona

Kompas.com - 27/09/2020, 11:33 WIB
Ilustrasi obat-obatan steroid. WHO telah merekomendasikan penggunaan obat steroid untuk pengobatan pasien Covid-19 dengan sakit parah dan kritis. SHUTTERSTOCK/PCPartStudioIlustrasi obat-obatan steroid. WHO telah merekomendasikan penggunaan obat steroid untuk pengobatan pasien Covid-19 dengan sakit parah dan kritis.

KOMPAS.com - Peneliti dari berbagai belahan dunia masih berlomba dalam menciptakan obat yang ampuh untuk mengatasi virus corona.

Beberapa obat sudah memasuki uji coba fase 2 hingga 3, dan hasilnya diklaim cukup menjanjikan.

Berikut ini 5 obat Covid-19 dilansir Business Insider, Rabu (23/9/2020):

1. Obat antibodi dari Eli Lilly

Obat pertama dalam daftar ini adalah obat antibodi dari perusahaan Eli Lily. Obat ini diklaim dapat mengurangi risiko rawat inap.

Antibodi penetral adalah respons alami tubuh terhadap patogen asing. Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, Anthony Fauci, menyebut antibodi penetral sebagai standar emas perlindungan terhadap infeksi virus.

Untuk membuat terapi antibodi, para ilmuwan mencari antibodi paling kuat di antara sekumpulan antibodi, kemudian mengkloning dan memproduksi antibodi tersebut dalam skala besar.

Baca juga: Tak Percaya Trump, New York Akan Uji Sendiri Vaksin Corona

Salah satu perusahaan yang mengembangkan obat corona dengan metode antibodi penetral adalah perusahaan Eli Lilly. Mereka mulai menguji obat antibodi yang disebut LY-CoV555 pada pasien mulai bulan Juni 2020.

Pada bulan yang sama, obat tersebut memasuki uji coba fase 2 pada orang dengan kasus Covid-19 ringan hingga sedang. Perusahaan mengumumkan hasil awalnya minggu lalu.

Perusahaan mengatakan telah menguji tiga dosis berbeda LY-CoV555 terhadap plasebo dalam percobaan yang melibatkan sekitar 450 pasien.

Pada dosis 2.800 mg telah berhasil memenuhi target percobaan untuk secara signifikan mengurangi keberadaan SARS-CoV-2 setelah 11 hari.

Namun, dosis obat antibodi lainnya, termasuk dosis 700 mg dan dosis 7.000 mg, tidak memenuhi tujuan itu.

Akan tetapi, disebutkan dari obat itu membuat risiko rawat inap 72 persen lebih rendah.

Baca juga: Uji Coba Vaksin Corona Johnson & Johnson Tunjukkan Respons Kekebalan Tubuh Kuat

“Karena ini adalah data klinis pertama yang kami lihat dari antibodi penetral, saya menemukan hasil yang cukup menggembirakan,” kata Eric Topol, seorang ahli jantung yang mengarahkan Scripps Research Translational Institute.

"(Kelas obat antibodi ini) merupakan suntikan terbaik kami untuk intervensi jangka pendek yang manjur meskipun sulit diproduksi dalam skala besar dan kemungkinan besar akan membutuhkan biaya tinggi," tambahnya.

Namun, masih ada alasan untuk bersikap skeptis. Hasilnya belum diperiksa oleh ilmuwan independen atau dipublikasikan dalam jurnal peer-review. Eli Lilly juga belum memastikan apakah mereka signifikan secara statistik.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X