PBB Peringatkan Dunia tentang "Malapetaka Generasi" Sektor Pendidikan, Ini Sebabnya...

Kompas.com - 04/08/2020, 14:47 WIB
Seorang siswa SD dengan masker di wajahnya berjalan meninggalkan sekolah usai melakukan pendaftaran ulang pada hari pertama sekolah di Jayapura, Papua, Senin (13/7/2020). Siswa SD, SMP dan SMA mulai mengikuti kegiatan belajar-mengajar tahun ajaran baru 2020/2021 dengan sistem pembelajaran tatap muka langsung dan daring. ANTARA FOTO/Gusti Tanati/wsj. Gusti TanatiSeorang siswa SD dengan masker di wajahnya berjalan meninggalkan sekolah usai melakukan pendaftaran ulang pada hari pertama sekolah di Jayapura, Papua, Senin (13/7/2020). Siswa SD, SMP dan SMA mulai mengikuti kegiatan belajar-mengajar tahun ajaran baru 2020/2021 dengan sistem pembelajaran tatap muka langsung dan daring. ANTARA FOTO/Gusti Tanati/wsj.

 

KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa dunia menghadapi ancaman sebuah "malapetaka generasi" pada sektor pendidikan, Selasa (4/8/2020).

Peringatan ini disampaikan karena penutupan sekolah-sekolah yang terjadi di tengah pandemi corona yang masih terus berlangsung.

Guterres juga mengatakan bahwa membuat para siswa dapat dengan aman kembali ke ruang kelas harus menjadi sebuah prioritas teratas.

Menurut dia, hingga pertengahan Juli, sekolah-sekolah di 160 negara masih ditutup. Kondisi ini berdampak pada lebih dari 1 miliar siswa atau sekitar 60,5 persen dari total pelajar yang terdaftar. 

Sementara itu, setidaknya 40 juta anak melewatkan pendidikan dini atau pre-school.

Baca juga: PBB: Hampir 7 Juta Anak Terancam Stunting Akibat Pandemi Covid-19

Melansir Straits Times, Selasa (4/8/2020), perlu diketahui, sebelum penutupan sekolah-sekolah dilakukan karena pandemi ini, ada lebih dari 250 juta anak-anak di dunia yang tidak dapat memperoleh pendidikan.

Selain itu, hanya seperempat dari siswa sekolah menengah di negara berkembang yang memiliki keterampilan dasar.

"Saat ini, kita menghadapi sebuah malapetaka generasi yang dapat membuat potensi tak terhingga manusia menjadi sia-sia. Merusak perkembangan dalam beberapa dekade, dan memperburuk kesenjangan yang telah terjadi," kata Guterres saat meluncurkan kampanye PBB "Save our Future".

Prioritas utama

Guterres menilai bahwa saat transmisi lokal Covid-19 telah terkontrol, membawa kembali siswa-siswa ke sekolah dan institusi pembelajaran seaman mungkin harus menjadi prioritas utama. 

"Konsultasi dengan orangtua, wali, guru, dan anak-anak muda adalah hal yang fundamental," kata dia.

Baca juga: Corona: 421 Juta Pelajar di 39 Negara Belajar di Rumah, Kampus di Indonesia Kuliah Online

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X