Subkhi Ridho
Pendidik dan Peneliti Sosial-Keagamaan

Wakil Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Inggris Raya periode 2018-2019, pendidik dan peneliti sosial-keagamaan.

Ramadhan, Sains, dan Disiplin Diri

Kompas.com - 27/04/2020, 15:15 WIB
Masjid Istiqlal terlihat sepi menyusul ditiadakannya kegiatan shalat tarawih berjamaah karena wabah virus corona (Covid-19), di Jakarta, Kamis (23/4/2020). Di tengah pandemi Covid-19, Ramadhan tahun ini berlangsung dengan suasana sepi, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGMasjid Istiqlal terlihat sepi menyusul ditiadakannya kegiatan shalat tarawih berjamaah karena wabah virus corona (Covid-19), di Jakarta, Kamis (23/4/2020). Di tengah pandemi Covid-19, Ramadhan tahun ini berlangsung dengan suasana sepi, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini


BULAN Ramadhan tahun 1441 H atau 2020 M kali ini berlangsung di tengah pandemi wabah Covid-19 yang nyaris menghentikan aktivitas manusia di manapun berada.

Setiap negara menetapkan kebijakan yang sangat ketat bagi warganya untuk tidak keluar rumah jika tidak mendesak misalnya.

Sejak munculnya Januari lalu di kota Wuhan, hingga di Indonesia sejak medio Maret, opsi melakukan aktivitas di rumah menjadi kebijakan yang paling awal diberlakukan. Bekerja, belajar, termasuk beribadah untuk dilakukan di rumah.

Penggunaan masker yang awalnya tidak direkomendasikan kecuali bagi mereka yang sakit, sejak dua minggu terakhir menjadi sebuah keharusan bagi siapa yang keluar rumah.

Sekolah dari jenjang PAUD hingga perguruan tinggi tidak lagi ada aktivitas pembelajaran di ruang kelas.

Bagi mereka yang bekerja kantoran, pun mengalami hal serupa, hanya menerapkan shift bagi karyawan.

Sementara itu aktivitas di masjid, gereja, pura, wihara, klenteng pun ditiadakan. Hanya saja untuk aktivitas ibadah di rumah ibadah masih banyak yang tidak mengindahkan.

Malam pertama taraweh pun tidak sedikit masjid yang tetap membandel menyelenggarakan shalat taraweh berjamaah dengan tidak mengindahkan protokol kesehatan: jaga jarak, menggunakan masker misalnya.

Aktivitas di masjid sesungguhnya telah dilarang untuk sementara waktu senyampang pandemi wabah Covid-19 masih melanda.

Jauh hari sebelum pemberlakuan aturan yang lebih ketat, ormas agama seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, termasuk Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan putusannya yang meminta jamaahnya masing-masing untuk melakukan ibadah di tempat tinggalnya. Termasuk ibadah shalat Jumat pun untuk digantikan dengan shalat dhuhur di rumah.

Imam saat melaksanakan Tadarus Al-Quran di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2020). Dewan Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa memutuskan untuk meniadakan Tarawih dan kegiatan lainnya yang bisa menimbulkan kerumunan, tetapi tetap menggelar ibadah rutin seperti salat 5 waktu, tadarus, dan Tarawih selama Ramadhan. Namun ibadah tersebut hanya diikuti imam dan pengurus masjid, bukan bagi jemaah umum.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Imam saat melaksanakan Tadarus Al-Quran di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2020). Dewan Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa memutuskan untuk meniadakan Tarawih dan kegiatan lainnya yang bisa menimbulkan kerumunan, tetapi tetap menggelar ibadah rutin seperti salat 5 waktu, tadarus, dan Tarawih selama Ramadhan. Namun ibadah tersebut hanya diikuti imam dan pengurus masjid, bukan bagi jemaah umum.

Bahkan, terkait pelaksanaan shalat Idul Fitri yang seringkali dilakukan di lapangan, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, telah mengingatkan sekiranya pandemi wabah Covid-19 belum dapat diatasi hingga bulan Syawal maka tidak perlu diadakakan shalat Idul Fitri, termasuk penyelenggaraan takbir keliling, syawalan, dan mudik pun tidak perlu dilakukan.

Sebuah keputusan yang sangat bijak dan membuat warga Muhammadiyah tenteram dan menghindari kepanikan karena sudah dikeluarkan maklumat sejak awal Ramadhan.

Keputusan yang didasarkan pada kaidah-kaidah keislaman yang kuat serta aspek akademik kesehatan ilmiah yang tidak main-main sumbernya dan tentu saja sebagai cara untuk melindungi jamaah dari kerusakan yang lebih buruk.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.