Kompas.com - 07/03/2020, 13:25 WIB
Peta zona aktif adalah laporan aktivitas gempa bulanan, dimana BMKG melakukan tugasnya melakukan monitoring gempa di wilayah Indonesia dan bukan prediksi gempa sehingga masyarakat tidak perlu takut dan khawatir. HENDRIK YANTO HALAWAPeta zona aktif adalah laporan aktivitas gempa bulanan, dimana BMKG melakukan tugasnya melakukan monitoring gempa di wilayah Indonesia dan bukan prediksi gempa sehingga masyarakat tidak perlu takut dan khawatir.

KOMPAS.com - Gempa bumi bermagnitudo 5,2 kemudian dimutakhirkan menjadi 4,9 magnitudo mengguncang Yahukimo, Sabtu (7/3/2020) pukul 11.37 WIB.

Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa bumi terletak pada koordinat 3.95 LS dan 139.42 BT.

"Tepatnya berlokasi di darat pada jarak 46 km arah tenggara Kota Elelim, Kabupaten Yalimo, Papua," kata Kepala Bagian Humas BMKG Akhmad Taufan Maulana kepada Kompas.com, Sabtu (7/3/2020) siang.

Taufan menambahkan, gempa berkedalaman 47 km ini tidak berpotensi tsunami.

Baca juga: Apakah Gempa Selalu Diikuti Gempa Susulan? Ini Penjelasan BMKG

Sementara itu, gempa bumi yang terjadi merupakan gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan sesar mendatar (strike slip)," ujar dia.

Guncangan gempa dirasakan di daerah Wamena II-III MMI.

Getaran terasa nyata di dalam rumah seakan-akan adanya truk melintas

Meski begitu, hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi ini. 

"Hingga hari Sabtu, 07 Maret 2020 pukul 12.20 WIB, Hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock)," tutur Taufan.

Baca juga: Viral Megathrust Sulawesi Sebabkan Gempa dan Tsunami Besar, Ini Penjelasannya

Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Jika terdapat bangunan retak atau rusak akibat gempa, sebaiknya dihindari.

"Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yg membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali kedalam rumah," kata Taufan menambahkan.

Baca juga: BMKG: Gempa Bumi Tektonik Guncang Indonesia 779 Kali Selama Februari

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.