Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hari Ini dalam Sejarah: Peringatan Hari Uang dan Kisah di Baliknya

Kompas.com - 30/10/2019, 06:33 WIB
Rosiana Haryanti,
Resa Eka Ayu Sartika

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tanggal 30 Oktober diperingati sebagai Hari Uang Nasional. Mata uang Rupiah yang menjadi alat pembayaran sah di negeri ini memiliki perjalanan panjang bahkan sejak Republik ini berdiri.

Berbagai usaha saat itu dilakukan demi menerbitkan dan mengedarkan mata uang sendiri. Pemberitaan Kompas.com, 26 Oktober 2018 menyebutkan, pada awalnya Menteri Keuangan kala itu, AA Maramis mengeluarkan tiga putusan penting pada tanggal 29 September 1945.

Putusan tersebut antara lain tidak mengakui hal dan wewenang pejabat pemerintahan tentara Jepang untuk menerbitkan dan menandatangani surat-surat perintah membayar uang dan dokumen lain yang berkaitan dengan pengeluaran negara.

Kemudian, hak serta wewenang pejabat pemerintahan tentara Jepang diserahkan ke Pembantu Bendahara Negara yang ditunjuk dan bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan.

Putusan ketiga adalah semua kantor kas negara dan instansi dengan tugas kas negara yakni kantor pos, harus menolak pembayran atas surat perintah membayar uang yang tidak ditandatangani Pembantu Bendahara Negara.

Selain ketiga putusan tersebut, pemerintah akhirnya mengeluarkan maklumat bahwa uang NICA tidak berlaku lagi di Indonesia.

Kala itu, uang NICA (Netherlands Indische Civil Administration) yang dicetak di Australia tahun 1943 dan bergambar Ratu Wilhelmina, merupakan alat pembayaran yang diterbitkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Pemberitaan Harian Kompas, 31 Oktober 1993 menyebutkan, Belanda memaksakan uang ini sebagai alat pembayaran yang sah bagi semua pihak yang bertikai saat itu.

Sehari setelahnya, yaitu pada tanggal 3 Oktober 1945, pemerintah menetapkan empat mata uang yang sah dan diakui di Indonesia. Keempat mata uang tersebut adalah De Javasche Bank, De Japansche Regeering, Dai Nippon emisi, serta Dai Nippon Teikoku Seibu.

Bersamaan dengan berlakunya keempat mata uang tersebut, Maramis membentuk Panitia Penyelenggara Pencetakan Uang Kertas Republik Indonesia yang teriri dari dua orang yakni Aos Surjatna dan Sahlan Etfeni Osman pada 7 November 1945.

Keduanya dibantu oleh beberapa orang antara lain Mochtar, Utomo, dan Suherman. Seluruh anggota panitia tersebut merupakan bekas pegawai percetakan Kolff Djakarta.

Arsip pemberitaan Harian Kompas, 14 Agustus 1970 menyebutkan, panitia yang juga disebut dengan nama Panitia Dua ini secara bertahap mulai mencetak mata uang resmi Indonesia.

Ilustrasi rupiahKOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Ilustrasi rupiah
Mengutip laman Kementerian Keuangan, pada 29 Oktober 1946, Wakil Presiden Mohammad Hatta menyampaikan jika pemerintah secara tegas ingin benar-benar memerdekakan diri dari penjajahan Belanda.

Langkah yang diambil adalah dengan menerbitkan dan mengedarkan Oeang Republik Indonesia (ORI) pada 30 Oktober 1946 sebagai mata uang Republik Indonesia.

"Besok mulai beredar Uang Republik Indonesia sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah. Mulai pukul 12 tengah malam nanti, uang Jepang yang selama ini beredar sebagai uang yang sah, tidak laku lagi. Beserta dengan uang Javasche Bank. Dengan ini tutuplah suatu masa dalam sejarah keuangan Republik Indonesia. Masa yang penuh dengan penderitaan dan kesukaran bagi rakyat kita. Uang sendiri itu adalah tanda kemerdekaan Negara," ucap Mohammad Hatta dalam pidatonya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Kronologi Kecelakaan Bus di Subang, 9 Orang Tewas dan Puluhan Luka-luka

Kronologi Kecelakaan Bus di Subang, 9 Orang Tewas dan Puluhan Luka-luka

Tren
Warganet Pertanyakan Mengapa Aurora Tak Muncul di Langit Indonesia, Ini Penjelasan BRIN

Warganet Pertanyakan Mengapa Aurora Tak Muncul di Langit Indonesia, Ini Penjelasan BRIN

Tren
Saya Bukan Otak

Saya Bukan Otak

Tren
Pentingnya “Me Time” untuk Kesehatan Mental dan Ciri Anda Membutuhkannya

Pentingnya “Me Time” untuk Kesehatan Mental dan Ciri Anda Membutuhkannya

Tren
Bus Pariwisata Kecelakaan di Kawasan Ciater, Polisi: Ada 2 Korban Jiwa

Bus Pariwisata Kecelakaan di Kawasan Ciater, Polisi: Ada 2 Korban Jiwa

Tren
8 Misteri di Piramida Agung Giza, Ruang Tersembunyi dan Efek Suara Menakutkan

8 Misteri di Piramida Agung Giza, Ruang Tersembunyi dan Efek Suara Menakutkan

Tren
Mengenal Apa Itu Eksoplanet? Berikut Pengertian dan Jenis-jenisnya

Mengenal Apa Itu Eksoplanet? Berikut Pengertian dan Jenis-jenisnya

Tren
Indonesia U20 Akan Berlaga di Toulon Cup 2024, Ini Sejarah Turnamennya

Indonesia U20 Akan Berlaga di Toulon Cup 2024, Ini Sejarah Turnamennya

Tren
7 Efek Samping Minum Susu di Malam Hari yang Jarang Diketahui, Apa Saja?

7 Efek Samping Minum Susu di Malam Hari yang Jarang Diketahui, Apa Saja?

Tren
Video Viral, Pengendara Motor Kesulitan Isi BBM di SPBU 'Self Service', Bagaimana Solusinya?

Video Viral, Pengendara Motor Kesulitan Isi BBM di SPBU "Self Service", Bagaimana Solusinya?

Tren
Pedang Excalibur Berumur 1.000 Tahun Ditemukan, Diduga dari Era Kejayaan Islam di Spanyol

Pedang Excalibur Berumur 1.000 Tahun Ditemukan, Diduga dari Era Kejayaan Islam di Spanyol

Tren
Jadwal Pertandingan Timnas Indonesia Sepanjang 2024 Usai Gagal Olimpiade

Jadwal Pertandingan Timnas Indonesia Sepanjang 2024 Usai Gagal Olimpiade

Tren
6 Manfaat Minum Wedang Jahe Lemon Menurut Sains, Apa Saja?

6 Manfaat Minum Wedang Jahe Lemon Menurut Sains, Apa Saja?

Tren
BPJS Kesehatan: Peserta Bisa Berobat Hanya dengan Menunjukkan KTP Tanpa Tambahan Berkas Lain

BPJS Kesehatan: Peserta Bisa Berobat Hanya dengan Menunjukkan KTP Tanpa Tambahan Berkas Lain

Tren
7 Rekomendasi Olahraga untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas, Salah Satunya Angkat Beban

7 Rekomendasi Olahraga untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas, Salah Satunya Angkat Beban

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com