Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Viral, Video Red Devil Invasi Perairan Danau Toba, Ikan Apa Itu?

KOMPAS.com – Unggahan video mengenai adanya ikan red devil disebut menginvasi perairan Danau Toba baru-baru ini viral di media sosial TikTok.

Salah satunya adalah video yang diunggah oleh akun TikTok @samosir45.

“Lihatlah Betapa Agresifnya Ikan Red Devil ini,” tulisnya dalam video yang memperlihatkan segerombolan ikan berwarna oranye tengah menyerbu satu ekor ikan berwarna hitam yang tak bergerak.

Beragam komentar pun muncul terkait unggahan tersebut.

“Parah itu ikan bang, itu bukan asli Toba kan, invasive,” tulis akun @Have fun go mad.

“Ohh jadi namanya ikan red devil tak kira lah ikan bila merah. soalnya asal ke danau toba sering lihat ni ikan di pinggir2,” tulis akun @Lim.

Lantas sebenarnya apa itu ikan red devil?

Terkait hal tersebut, Kompas.com menghubungi Dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Djumanto.

Saat dihubungi, Djumanto membenarkan bahwa ikan tersebut adalah ikan red devil.

“Iya, itu ikan red devil,” kata Djumanto, Jumat (29/7/2022).

Ia menjelaskan bahwa ikan red devil adalah ikan yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan cenderung membuat habitat yang baru.

Oleh karena itulah, menurutnya ikan ini kehadirannya akan mengalahkan ikan yang asli.

“(Red devil) memangsa anakan ikan asli, mengganggu tempat bertelur, dan juga memakan telur ikan asli,” katanya lagi.

Djumanto menjelaskan bahwa ikan red devil sebenarnya bukan berasal dari Indonesia, namun dari Amerika. Ikan tersebut kemudian bisa masuk ke Indonesia sebagai ikan hias.

Pada habitat aslinya, ikan ini memiliki banyak pemangsa alami, namun menurutnya di Danau Toba ikan tersebut tak memiliki pengendali.

Ikan red devil menurutnya memiliki panjang sekitar 10-20 cm dengan berat 20-100 gram.

“Ikan red devil memiliki edible portion yang rendah sehingga nilai jualnya rendah, sehingga secara ekologi dan ekonomi merugikan,” ungkapnya.

Terpisah, Dosen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, M Mukhlis Kamal menjelaskan, ikan red devil memiliki nama ilmiah Amphilophus labiatus, dan merupakan jenis ikan dari marga Cichlidae.

Ia mengatakan, ikan tersebut masih satu marga/famili dengan ikan nila dan ikan mujair.

Namun, berbeda dengan kedua ikan tersebut yang berasal dari DAS Nil, ikan red devil hidup secara endemik di Danau Managua dan Danau Nicaragua, Amerika Tengah.

Ia menjelaskan, ikan ini perbanyakan keturunannya sangat baik sehingga cepat berkembang biak. Apalagi menurutnya ikan red devil tahan perairan yang kurang baik kondisinya.

Oleh karena itulah ikan red devil yang sudah banyak lepas ke perairan umum pada akhirnya menjadi penguasa khususnya perairan danau.

“Kasus-kasus danau dan waduk yang diinvasi ikan red devil sudah ada dari Sabang sampai Merauke. Sudah sangat sulit untuk membasmi atau menekan populasinya. Dan keberadaannya sangat mengganggu ikan-ikan asli Indonesia,” ungkapnya, Jumat (29/7/2022).

Imbauan akan invasi red devil

Mukhlis menjelaskan bahwa spektrum makanan red devil sangat luas, karena bisa menjadi karnivora, herbivora, maupun omnivora (pemakan segala).

“Video tiktok yang viral menunjukkan mereka memakan bangkai ikan, membuktikan mereka karnivor yang cenderung buas,” ucapnya.

Ikan red devil imbuhnya, bisa dimakan, akan tetapi banyak pendapat yang mengatakan bahwa ikan tersebut banyak durinya dan kurang enak rasanya.

"Secara ekonomi ikan red devil tidak menguntungkan," imbuh dia.

Ia menilai tidak mudah untuk membersihkan perairan dari ikan invasif seperti red devil apabila sudah berkembang biak di mana-mana.

Menurutnya salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan ikan tersebut untuk ditangkap maupun dijadikan olahan pangan maupun menjadikannya sebagai bahan pakan ikan.

“Membasmi secara manual, sesuatu yang hampir mustahil,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya penting untuk melakukan edukasi ke masyarakat agar tak melepas ikan yang bukan asli Indonesia secara sembarangan.

Pantauan KKP soal ikan red devil

Sementara itu, dikutip dari laman KKP, 14 Juni 2022, ikan red devil di Danau Toba merupakan ikan yang memang saat ini tengah menjadi perhatian oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Selain red devil, ikan yang juga menginvasi Danau Toba yakni ikan kaca-kaca, ikan sapu-sapu, dan juga bawal.

Ikan-ikan tersebut pada akhirnya membuat ikan asli Danau Toba yakni ikan batak dan ikan pora-pora mengalami penurunan stok bahkan hampir punah.

“Ikan red devil ini tidak diminati nelayan karena dapat merusak jaring nelayan. Selain itu harga jualnya sangat rendah hanya sekitar Rp 2.000-Rp 3.000 per kilogram, bahkan di beberapa lokasi tidak memiliki nilai jual,” kata Koordinator Pengelolaan Sumber Daya Ikan Perairan Daratan Novia Tri Rahmawati.

Novia mengatakan strategi jangka pendek untuk mengatasi ikan invasif tersebut diperlukan di antaranya adalah dengan metode eradikasi, melalui penangkapan ikan secara masal untuk non-konsumsi, atau menggunakan alat penangkapan ikan bubu.

“Kita juga dorong nelayan bermitra dengan pelaku usaha pengolahan tepung ikan. Bantuan pemerintah sesuai aturan yang berlaku berupa alat penangkapan ikan bubu maupun mesin pakan ikan juga menjadi alternatif dalam meningkatkan minat masyarakat untuk menangkap ikan red devil di Danau Toba,” imbuhnya.

Langkah lainnya, yang juga diperlukan adalah berupa penebaran ikan asli/endemik, penguatan reservaat dan/atau pembuatan ekosistem konservasi buatan.

Selain itu juga diperlukan pelibatan kelompok masyarakat pengawas untuk melakukan pencatatan dan pelaporan kegiatan yang merusak sumber daya ikan.

https://www.kompas.com/tren/read/2022/08/01/090500765/viral-video-red-devil-invasi-perairan-danau-toba-ikan-apa-itu-

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke