Kompas.com - 14/03/2021, 11:02 WIB
Ilustrasi salah satu jenis millipede atau kaki seribu. WIKIMEDIA COMMONS/Prosthetic HeadIlustrasi salah satu jenis millipede atau kaki seribu.

KOMPAS.com - Setiap makhluk hidup memiliki aroma khasnya sendiri, termasuk hewan.

Pada dasarnya aroma yang dimiliki oleh hewan bukanlah aroma yang kuat atau menyengat. Tetapi ada bebeberapa hewan yang memiliki aroma sangat kuat, bahkan cenderung mengganggu. Berikut adalah hewan paling bau di dunia:

Kaki Seribu

Dilansir dari OneKindPlanet, kaki seribu adalah salah satu hewan paling bau di dunia. Aroma tidak sedap dari kaki seribu berasal dari cairan yang dihasilkan pada saat mereka melingkarkan tubuhnya pada saat stres atau pada saat akan memangsa hewan buruannya.

Cairan bau yang dihasilkan oleh kaki seribu adalah asam hidrogen yang merupakan cairan beracun. Cairan asam hidrogen yang dihasilkan oleh seekor kaki seribu mampu membunuh seekor tikus. Sedangkan cairan dari seratus ekor kaki seribu cukup untuk membunuh seorang manusia.

Sigung

SigungWikimedia Commons Sigung
Aroma menyengat yang dihasilkan oleh sigung atau skunk berasal dari cairan yang keluar dari duburnya. Bau yang dihasilkan bertujuan untuk melarikan diri dari predator.

Sigung juga menyemprotkan baunya apabila ia merasa terancam. Sebelum mengeluarkan cairan berbau menyengat tersebut, biasanya sigung akan mengaum keras, lalu dia akan mengembangkan bulunya serta mengibaskan ekornya.

Cairan berbau dari sigung tidak berbahaya tetapi baunya akan tetap tercium dan menempel selama beberapa hari. Dilansir dari OneKindPlanet, bau dari sigung dapat tercium bahkan dari jarak setengah kilometer.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kukang

Primata Kukang Jawa (Nycticebus Javanicus) menaiki pohon saat habituasi sebelum pelepasliaran kembali ke habitatnya di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Bogor, Jawa Barat, Minggu (20/12/2020). Pelepasliaran ini terlaksana atas kerja sama Balai Besar KSDA Jawa Barat, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi (IAR) Indonesia. Kukang yang dilepasliarkan terbagi ke dalam dua tahap. Tahap pertama sebanyak 15 individu sudah dilaksanakan pada Selasa (15/12/2020) dan tahap kedua sebanyak 15 individu dilaksanakan pada Minggu (20/12/2020).KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Primata Kukang Jawa (Nycticebus Javanicus) menaiki pohon saat habituasi sebelum pelepasliaran kembali ke habitatnya di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Bogor, Jawa Barat, Minggu (20/12/2020). Pelepasliaran ini terlaksana atas kerja sama Balai Besar KSDA Jawa Barat, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi (IAR) Indonesia. Kukang yang dilepasliarkan terbagi ke dalam dua tahap. Tahap pertama sebanyak 15 individu sudah dilaksanakan pada Selasa (15/12/2020) dan tahap kedua sebanyak 15 individu dilaksanakan pada Minggu (20/12/2020).
Pada saat musim kemarau, biasanya bulu kukang berwarna coklat dan kumal. Sedangkan pada saat musim hujan bulu kukang akan memiliki corak berwarna hijau.

Dilansir dari BBC, corak hijau pada bulu kukang ini adalah algae yang tumbuh subur pada bulu kukang. Corak ini menguntungkan bagi kukang karena dapat mempermudah kukang dalam berkamuflase untuk menghindari predator.

Selain itu, algae pada bulu kukang juga bermanfaat untuk memproduksi nutrisi esensial yang diperlukan oleh kukang.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.