Kompas.com - 29/07/2022, 09:03 WIB

KOMPAS.com - Penyakit cacar monyet atau monkeypox tengah mendapatkan perhatian internasional. Infeksinya terus meluas, tidak hanya di negara endemiknya, penyebaran virus telah terdeteksi di negara-negara non endemis.

Atas hal ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 23 Juli lalu menyatakan, bahwa virus monkeypox sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau darurat kesehatan masyarakat global.

Penyakit cacar monyet dapat membuat penderitanya mengalami demam tinggi, sakit kepala berat, lesi kulit, hingga pembengkakan limfadenopati.

Baca juga: Perawatan Cacar Monyet Ditanggung Pemerintah, Kemenkes Siapkan Aturannya

Meskipun tingkat fatalitasnya masih rendah, penyakit cacar monyet berisiko pada anak-anak, lansia, dan penderita imunocompromissed.

Komplikasi penyakit cacar monyet dapat berupa infeksi sekunder, bronkopneumonia, sepsis, ensefalitis, hingga infeksi kornea sehingga menyebabkan kebutaan.

Lantas, bagaimana dampak infeksi cacar monyet pada ibu hamil?

Ibu hamil menjadi salah satu kelompok rentan atas infeksi cacar monyet atau monkeypox.

Menilik data di Afrika, memang terdapat laporan bahwa virus bisa menular ke bayi melalui cairan plasenta, yang disebabkan virus monkeypox melewati darah pada fase tertentu.

“Jadi penularan bisa terjadi ke bayi yang baru lahir, (melalui) transmisi plasenta atau justru kontak erat sesudah proses kelahiran,” jelas Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dr. Robert Sinto dalam acara konferensi pers “Update Perkembangan Cacar Monyet di Indonesia” pada Rabu (27/7/2022).

Lebih lanjut, beberapa laporan kasus menunjukkan bahwa infeksi bisa menyebabkan kematian janin, meskipun tidak dilaporkan secara jelas angka kejadiannya.

Baca juga: Cacar Monyet Ditetapkan sebagai Darurat Kesehatan Global, Kenali Karakteristiknya

Penularan cacar monyet melalui air susu ibu

Secara hipotesis, virus yang menyebar melalui aliran darah, maka bisa diduga bahwa virus monkeypox pun dapat ditransmisikan melalui air susu ibu (ASI).

Robert menuturkan, sejauh ini Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyarankan, agar ibu menyusui yang terinfeksi cacar monyet untuk tidak memberikan ASI kepada anaknya, sampai ada kejelasan bisa tidaknya virus menular lewat air susu.

Bahkan, ASI perah dari ibu menyusui yang terinfeksi cacar monyet juga sebaiknya tidak diberikan pada anaknya.

“Tujuannya (tidak memberikan ASI) bukan semata-mata agar tidak ada kontak erat. Tentu penelitian masih sangat dinamis sekali,” jelasnya.

Sehingga, sebaiknya tidak memberikan ASI dari ibu menyusui yang terinfeksi cacar monyet sampai ada penelitian lebih lanjut.

Baca juga: Apakah Cacar Monyet Berbahaya?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.