Kompas.com - 17/01/2022, 10:25 WIB

KOMPAS.com - Studi pertama di dunia mengungkap bahwa perjalanan luar angkasa ternyata berpengaruh pada penurunan jumlah sel darah merah.

Kondisi ini dikenal sebagai anemia luar angkasa.

Mengutip Phys, Minggu (16/1/2022) kesimpulan tersebut didapat setelah peneliti melakukan analisis terhadap 14 astronot.

"Anemia luar angkasa secara konsisten telah dilaporkan ketika astronot kembali ke Bumi sejak misi luar angkasa pertama. Tapi kami tak tahu mengapa," ungkap Dr. Guy Trudel, penulis utama dan dokter rehabilitasi di The Ottawa Hospital.

Baca juga: Sampah Antariksa Berkecepatan Tinggi Bikin Astronot Gagal Spacewalk

Studi yang ia lakukan menunjukkan, bahwa setelah tiba di luar angkasa, tubuh astronot menghancurkan 54 lebih banyak sel darah merah daripada di Bumi. Dan ini berlanjut selama misi astronot.

Sebelum penelitian ini, anemia luar angkasa dianggap sebagai adaptasi cepat terhadap cairan yang berpindah ke tubuh bagian atas ketika astronot pertama kali tiba di luar angkasa.

Astronot kehilangan 10 persen cairan di pembuluh darah mereka dengan cara ini.

Dalam proses perpindahan cairan itu, diperkirakan astronot dengan cepat menghancurkan 10 persen sel darah mereka untuk mengembalikan keseimbangan. Kontrol sel darah merah kemudian kembali normal setelah 10 hari di luar angkasa.

Namun dalam penelitian baru, tim peneliti menemukan bahwa penghancuran sel darah merah adalah efek utama berada di luar angkasa. Bukan hanya disebabkan oleh perpindahan cairan.

Di Bumi, tubuh kita membuat dan menghancurkan 2 juta sel darah merah setiap detik. Dan ketika di luar angkasa, peneliti menemukan bahwa astronot menghancurkan 54 persen lebih banyak sel darah merah selama enam bulan di sana atau 3 juta per detik.

Hasil tersebut berlaku baik untuk astronot wanita dan pria.

Dalam studinya ini, peneliti menggunakan teknik dan metode yang dikembangkan untuk mengukur penghancuran sel darah merah secara akurat. Metode ini kemudian diadaptasi untuk mengumpulkan sampel di Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Tetapi untungnya, penurunan jumlah sel darah merah ini tak memengaruhi kesehatan para astronot selama di luar angkasa. Jika tidak, para astronot dapat berakhir dengan kondisi anemia parah.

"Memiliki lebih sedikit sel darah merah di luar angkasa tak menjadi masalah ketika tubuh Anda tak berbobot. Tetapi efek anemia terasa begitu Anda mendarat dan harus menghadapi gravitasi lagi," jelas Dr. Trudel.

Baca juga: Lama Tinggal di Luar Angkasa Bisa Sebabkan Gangguan Penglihatan

Halaman:


Video Pilihan

Sumber PHYSORG
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.