Kompas.com - 21/10/2021, 20:01 WIB
Ilustrasi tensimeter, alat pengkur tekanan darah atau sphygmomanometer adalah penemuan yang mengubah dunia yang telah membantu dokter melakukan pemeriksaan awal kesehatan. Sejak awal penemuan tensimeter manual, hingga kini alat tensi ini tak tergantikan meski berkembang generasi digital yang lebih canggih. SHUTTERSTOCK/interstidIlustrasi tensimeter, alat pengkur tekanan darah atau sphygmomanometer adalah penemuan yang mengubah dunia yang telah membantu dokter melakukan pemeriksaan awal kesehatan. Sejak awal penemuan tensimeter manual, hingga kini alat tensi ini tak tergantikan meski berkembang generasi digital yang lebih canggih.


KOMPAS.com - Alat pengukur tekanan darah atau sphygmomanometer merupakan alat yang biasa digunakan untuk mengukur tekanan darah, terutama di arteri. Berkat penemuan tensimeter manual, paramedis dapat memeriksa tanda-tanda vital seseorang.

Sphygmomanometer yang biasa kita sebut tensimeter ini merupakan salah satu penemuan yang mengubah dunia yang telah membantu dokter dalam pemeriksaan awal kesehatan pasiennya.

Dilansir dari MedicineNet, Senin (29/03/2021) terdapat dua jenis tensimeter manual yang kerap digunakan, di antaranya tensimeter air raksa, yaitu alat yang mengukur tekanan darah dengan melacak ketinggian kolom air raksa, dan cenderung digunakan untuk uji klinis serta pengujian pasien berisiko tinggi.

Jenis lainnya adalah sphygmomanometer aneroid, yang bergantung pada pengukur tekanan kecil.

Kedua alat tensimeter ini sama-sama menggunakan pompa karet atau silikon.

Mengingat ukurannya yang kecil dan relatif mudah digunakan, model aneroid mungkin lebih banyak digunakan saat ini untuk memeriksa tekanan darah tinggi yang berisiko menyebabkan penyakit jantung maupun stroke.

Baca juga: Penemuan Antiseptik, Selamatkan Banyak Nyawa dari Infeksi Kuman

Sejarah penemuan tensimeter

Kata sphygmomanometer berasal dari bahasa Yunani yaitu sphygmos artinya detak jantung atau denyut nadi, dan manometer yang artinya alat untuk mengukur tekanan atau tensi.

Penemuan alat tensi yang kita kenal sebagai pengukur tensi ini terjadi secara bertahap, dengan banyak penemu yang berjasa dibaliknya.

Melansir HealthTech, seorang pendeta abad ke-18 yang tertarik pada dunia sains bernama Stephen Hales meneliti kekuatan darah di arteri.

Sebagai bagian dari penelitiannya, Hales melakukan tes pada getah dalam sayuran, uji coba pada kuda, serta hewan lainnya.

Kemudian pada tahun 1850 an, ahli fisiologi Jerman Karl von Vierordt menemukan sphygmograph pertama dengan sistem berbasis berat untuk menguji tekanan darah menggunakan arteri radial seseorang.

Meskipun rumit, ini menunjukkan kemajuan dari penemuan tensimeter pada satu dekade sebelumnya yaitu kymograph.

Baca juga: Penemuan Alat Pacu Jantung Ini Selamatkan Ratusan Ribu Orang di Dunia

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.