Kompas.com - 13/09/2021, 17:02 WIB


KOMPAS.com - Peneliti Amerika Serikat memperingatkan bahwa badai Matahari yang ekstrem akan mempengaruhi jaringan internet di Bumi, dan menyebabkan kiamat internet.

Efek kiamat internet yang dimaksudkan adalah jaringan internet akan mati hingga berbulan-bulan lamanya di sejumlah negara di dunia.

Hal ini diungkapkan oleh Sanggetha Abdu Jyothi, asisten profesor di University of California, Irvine, dalam hasil penelitian yang bertajuk Solar Superstorms: Planning for an Internet Apocalypse.

Dalam penelitian tersebut, Jyothi mengatakan bahwa infrastruktur yang ada masih belum siap menghadapi badai matahari dalam skala yang besar atau ekstrem.

Dijelaskannya, matahari selalu mengirimkan partikel bermuatan magnet ke Bumi, atau yang dikenal sebagai solar wind, dalam jumlah dan kecepatan tertentu.

Solar wind mengalir keluar dari lapisan matahari yang bernama korona. Partikel ini terus dilepaskan dalam jumlah besar, mengikuti semburan matahari dan letusan lainnya.

Solar wind adalah partikel bermuatan plasma terdiri dari campuran proton dan elektron (partikel magnet), ditambah beberapa elemen yang lebih berat.

Baca juga: Badai Matahari Sebabkan Paus Abu-abu sering Terdampar, Kok Bisa?

 

Partikel magnet yang dikirim dalam jumlah dan kecepatan yang wajar, dapat ditepis oleh lapisan terluar Bumi.  Namun, dalam kurun waktu tertentu, solar wind bisa menjadi badai matahari yang besar dan ekstrem.

Hal inilah yang kemudian akan menyebabkan adanya gangguan geomagnetik di Bumi dan dapat berimbas pada infrastruktur jaringan internet.

Dari berbagai infrastuktur jaringan internet yang ada, kabel bawah laut menjadi infrakstruktur yang paling terdampak bila badai ekstrem ini terjadi.

Jika terjadi pemadaman internet skala besar yang berlangsung beberapa minggu atau bulan terakhir. Itulah yang disebut kiamat internet.

Lantas, benarkah badai Matahari ekstrem bisa sebabkan kiamat internet?

Menjelaskan dampak badai matahari yang ekstrem bagi Bumi dan pengaruhnya terhadap internet, astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo menjelaskan, badai matahari selalu berhubungan dengan gangguan magnetik, yang secara kasat mata tampak sebagai pembentukan bintik-bintik Matahari.

Baca juga: Badai Matahari Dahsyat Hantam Bumi 2.700 Tahun Lalu, Bisa Terulang

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.