Kompas.com - 06/09/2021, 18:29 WIB
Ilustrasi Pelecehan Seksual ShutterstockIlustrasi Pelecehan Seksual

KOMPAS.com - Kasus pelecehan seksual dan perundungan, belakangan kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. 

Salah satu kasus yang ramai dibicarakan pekan ini adalah dugaan pelecahan seksual dan perundungan terhadap seorang pegawai pria di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat.

Selain itu, kabar pelecehan seksual juga dialami oleh seorang remaja berusia 14 tahun di Bengkalis, di mana dirinya dicabuli oleh ayah dan kakeknya sendiri.

Ramainya tanggapan mengenai kasus asusila pelecehan seksual ini juga sangat meningkat, usai pedangdut Saipul Jamil dibebaskan dari penjara pada 2 September 2021.

Baca juga: Viral Kabar Pegawai KPI Pusat Alami Pelecehan Seksual di Kantor, Ini Efeknya Menurut Ahli

Saipul Jamil awalnya diusut pada 2016 di kasus pencabulan, dan Hakim Pengadilan negeri Jakarta Utara memberikan hukuman 3 tahun bui. 

Kasus pelecehan seksual atau perundungan selalu membuat para korban mengalami trauma yang mendalam.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sehingga, sangat penting bagi setiap individu untuk menjaga diri sebaik mungkin, demi mencegah risiko menjadi korban pelecehan seksual atau perundungan.

Menurut Psikolog Sosial asal Solo, Hening Widyastuti, ada dua cara menjaga diri untuk mencegah potensi risiko menjadi sasaran pelecehan seksual.

1. Ubah sifat jadi pemberani

Hening mengatakan, pelecehan seksual atau perundungan umumnya dialami oleh orang dengan karakter penurut, tidak memiliki keberanian untuk melawan.

Serta, mereka cenderung pendiam dan menyimpan semua masalah yang dihadapi sendirian.

"Karakter ini sangat mudah untuk menjadi korban perundungan," kata Hening kepada Kompas.com, Sabtu (4/9/2021).

Biasanya, kata Hening, orang dengan karakter ini akan selalu diam dan menyimpan cerita pahit yang sudah terjadi kepada dirinya, meski aksi perundungan sudah terjadi satu atau dua kali, bahkan lebih.

Alasan orang dengan karakter ini diam atau bungkam adalah, karena banyaknya pertimbangan yang ia pikirkan untuk berbicara terus terang.

"Selain karena banyak pertimbangan, menurutnya hal ini juga sangat memalukan, sehingga orang lain tidak perlu tahu. Cukup disimpan," ujarnya.

Sehingga, Hening menegaskan, orang dengan karakter pemalu atau penurut harus berusaha mengubah sifatnya menjadi seorang yang pemberani.

"Untuk karakter yang pemalu, penurut, takut pada senioritas dan orang lain yang punya power, ubah sifat tersebut untuk menjadi orang yang berani menolak aksi perundungan," jelasnya.

Baca juga: Dugaan Pelecehan Seksual di KPI, Ketahui 2 Faktor Terjadinya Perundungan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.