Kompas.com - 28/08/2021, 19:15 WIB

KOMPAS.comTuberkulosis adalah penyakit infeksius yang menyerang paru-paru. Penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini juga sering disebut dengan TBC.

Faktanya, Indonesia adalah negara dengan kasus tuberkulosis terbesar kedua di dunia setelah India. Prognosis kesembuhan pasien yang mendapat pengobatan sangat baik. Namun, pada pasien yang tidak dirawat, TBC bisa mengancam jiwa.

Penyakit ini menular melalui udara, misalnya saat orang yang terinfeksi batuk atau bersin di dekat orang yang sehat. Orang yang berisiko tertular juga adalah orang yang tinggal serumah dengan pasien.

Untuk menyembuhkan penyakit TBC, pasien harus meminum antibiotik selama 6 bulan berturut-turut. Namun sayangnya, kasus resistensi bakteri pada kasus tuberkulosis terus meningkat. Ini membuat pengobatan mungkin dilakukan lebih lama atau mengombinasikan beberapa jenis obat.

Baca juga: Mengenal Penyebab TBC, Penyakit yang Menyerang Paru

Pengaruh TBC ke paru-paru

Studi menemukan bahwa pada pasien yang telah sembuh dari TBC mungkin mengalami disfungsi paru. Gejala yang dirasakan bisa bervariasi dari gejala minor hingga gejala yang parah dan mengganggu pernapasan.

Kondisi ini disebut dengan pulmonary impairment after TB (PIAT). Kondisi ini bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Bahkan, di Afrika Selatan ditemukan kasus PIAT 16 tahun setelah sembuh dari TBC.

Bagaimana sebenarnya kondisi paru-paru pada penderita tbc?

Dilansir dari NCBI, TBC membuat dua kondisi utama pada paru-paru, yaitu obstruksi dan restriksi.

Kondisi pertama adalah obstruksi, yaitu kondisi yang menyebabkan berkurangnya kapasitas mengembuskan udara dari dalam paru-paru. Hasilnya adalah menurunnya forced expiratory volume (FEV).

Kondisi ini dipengaruhi beberapa hal sebagai berikut:

  1. Inflamasi berlebih
  2. Jalur udara menyempit
  3. Terbentuknya kavitas paru, atau kantung yang tidak normal di dalam paru
  4. Bronkioektasis atau rusaknya jaringan dinding bronkiolus sehingga menimbulkan lendir dan dahak yang menumpuk di paru-paru.

Kondisi yang kedua adalah restriksi. Kondisi ini adalah berkurangnya kapasitas paru-paru untuk menghirup udara. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya forced vital capacity (FVC).

Kondisi ini disebabkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Fibrosis jaringan paru berlebih
  2. Jaringan parenkim paru menjadi kaku
  3. Distorsi bronkovaskular
  4. Jaringan pleura pelapis paru menebal.

Pada sebagian kasus tuberkulosis, kondisi rusaknya paru ini akan tetap ada. Ini meningkatkan risiko pasien tersebut terkena chronic obstructive pulmonary disease (COPD) yang merupakan bagian dari PIAT.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.