Kompas.com - 09/08/2021, 20:15 WIB

KOMPAS.com - Selama pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung sejak 2020, diperkirakan prevalensi masyarakat Indonesia yang menderita depresi atau gangguan mental semakin meningkat.

Pada dua tahun sebelumnya, berdasarkan catatan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi penderita depresi di Indonesia sebesar 6,1 persen pada tahun 2018.

Para ahli selalu menyarankan, setiap orang yang mengalami depresi atau gangguan mental harus segera mencari bantuan untuk bisa mengatasi persoalan yang sedang dihadapinya.

Baca juga: Apa Itu Self Love? 6 Cara Mencintai Diri Sendiri Menurut Psikolog

Salah satu cara untuk mendapatkan bantuan tersebut adalah dengan berkonsultasi dengan psikolog.

Namun, bukan rahasia lagi bahwa masih banyak kelompok masyarakat Indonesia yang enggan pergi ke psikolog untuk berkonsultasi mengenai masalah atau gangguan mental yang dimilikinya.

Sebenarnya, apa yang membuat seseorang ragu untuk pergi ke psikolog?

Membantu menjawab pertanyaan mendasar ini, Psikolog dari aplikasi konseling online Riliv, Della Nova Nusantara MPsi Psikolog menjelaskan beberapa hambatan atau kendala yang membuat seseorang ragu untuk pergi berkonsultasi ke psikolog. Di antaranya sebagai berikut.

1. Stigma sosial tentang gangguan kesehatan jiwa (mental)

Seperti diketahui, sejak lama masyarakat Indonesia menganggap gangguan jiwa sebagai sesuatu yang tabu.

Della mengatakan, dengan stigma bahwa gangguan jiwa itu tabu, maka kebanyakan dari kita tidak ingin menjadi bahan pembicaraan orang lain sebagai seseorang dengan perilaku yang menyimpang dari norma sosial.

Padahal, Della menegaskan, gangguan kesehatan mental itu bukan hal yang tabu dan bukan sebuah aib besar.

"Gangguan kesehatan mental itu bukanlah hal yang tabu, bukan pula aib. Ini sama seperti saat fisik kita kalau sedang terluka, capek, kadang butuh istirahat, butuh treatment yang tepat sesuai dengan kebutuhannya saat itu seperti istirahat atau mungkin olahraga," kata Della melalui keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Minggu (8/8/2021).

"Begitu juga dengan kesehatan mental, diperlukan treatment yang tepat untuk menjaga kesehatannya," tambahnya.

Diakui Della, kendati saat ini stigma sosial tersebut sudah mulai berkurang di kalangan milenial dan Gen Z, tetap masih dapat ditemukan kejadiannya.

Hal ini dikarenakan, melepaskan pemikiran kolektif yang telah tertanam sejak lama itu bukan merupakan hal yang mudah.

Baca juga: Viral Video Anak Menangis Saat Belajar, Ini Saran Psikolog Menghadapi Anak Menangis Saat Belajar

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.