Perlombaan Peluncuran Stasiun Luar Angkasa Dimulai, Usai Rusia Kini China

Kompas.com - 29/04/2021, 09:03 WIB
Ilustrasi stasiun luar angkasa China (CSS)

newscientistIlustrasi stasiun luar angkasa China (CSS)

KOMPAS.com - Beberapa negara kembali menunjukkan persaingan mereka untuk menjadi terdepan di luar angkasa.

Tak hanya soal eksplorasi ke planet maupun Bulan, mereka kini beramai-ramai berencana meluncurkan stasiun luar angkasa miliknya sendiri.

Beberapa saat lalu Rusia mengumumkan akan membuat stasiun luar angkasa dengan target peluncuran pada 2025. Kini giliran China mengabarkan bakal melucurkan misi serupa dalam waktu dekat.

Baca juga: Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mengutip New Scientist, Rabu (28/4/2021) saat ini China tengah menyiapkan peluncuran bagian pertama dari stasiun luar angkasa China (CSS).

Bagian pertama tersebut merupakan modul inti sepanjang 18 meter yang disebut Tianhe. Modul tersebut terdiri dari pusat kendali stasiun, tenaga, propulsi, dan sistem pendukung kehidupan. Modul juga didesain sebagai tempat tinggal 3 astonot.

Peluncuran itu akan menandai dimulainya proyek konstruksi orbital yang diharapkan selesai pada 2022 nanti.

Setelah peluncuran itu akan diikuti pula oleh dua modul utama lainnya yang dirancang untuk menampung eksperimen ilmiah.

Setelah konstruksinya lengkap, stasiun luar angkasa baru miliki China ini nantinya akan berukuran sekitar seperempat Stasiun Luar Angkasa Internasional.

CSS akan menjadi stasiun luar angkasa berawak-11 yang pernah dibangun dan merupakan stasiun ketiga China.

"China sedang mencoba mengejar kemampuan yang telah dilakukan oleh negara lain," kata Laur Forczyk, analis luar angkasa.

Bahkan menurut Charles Bolden, administrator NASA di kepemimpinan Barack Obama menyebut China akan berjuang untuk menyamai kemampuan Amerika Serikat di luar angkasa.

Program stasiun luar angkasa China juga menandai perkembangan kemitraan dengan Roscosmos, badan antariksa Rusia.

"Kami telah melihat China dan Rusia bermitra cukup lama baru-baru ini. Salah satu alasannya karena Rusia memiliki keahlian signifikan dengan stasiun luar angkasa," jelas Forczyk.

"China memanfaatkan keahlian dan pengalaman sektor luar angkasa Rusia," tambah Forczyk.

Baca juga: 5 Fakta Perjalanan Kosmonot Yuri Gagarin, Manusia Pertama di Luar Angkasa

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.