Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Kompas.com - 15/01/2021, 17:08 WIB
Polusi cahaya ShutterstockPolusi cahaya

KOMPAS.com - Penemuan penerangan buatan dengan listrik pada abad 19 adalah revolusi bagi umat manusia. Satu abad kemudian cahaya buatan itu sudah merambah ke semua segi kehidupan di seluruh dunia.

Sekarang ini, sangat sulit dibayangkan kehidupan tanpa lampu listrik. Sekitar 80% manusia, kini hidup di bawah langit yang terpolusi cahaya buatan. Bahkan di Singapura, warganya tidak bisa lagi beradaptasi dengan gelapnya malam.

"Cahaya buatan di malam hari, adalah rekayasa paling dramatis yang sejauh ini kita lakukan terhadap biosfer," kata Dr. Christopher Kyba, pakar geoinformatika di lembaga penelitian kebumian Geo Forschungs Zentrum di Potsdam kepada DW.

Dia mengatakan, sepanjang evolusi selalu ada sinyal yang konstan datang dari lingkungan. "Ini siang hari. Ini malam hari. Ini saat bulan purnama. Di kawasan yang mengalami polusi cahaya sangat parah, sinyal ini berubah secara dramatis", kata Dr. Kyba lebih lanjut.

Baca juga: Cahaya Buatan Manusia Bikin Kunang-kunang Terancam Punah

Para ilmuwan memperkirakan, planet Bumi menjadi lebih terang 2% setiap tahunnya. Dan konsekuensi dari pertumbuhan cemaran cahaya ini juga makin kentara.

Pengaruh kesehatan polusi cahaya buatan

Orang yang hidup di kota besar, menjadi yang paling mengalami dampak terlalu banyaknya cahaya buatan.Di kota kedua terbesar India, Mumbai yang populasinya lebih dari 18 juta orang, polusi cahaya buatan sudah memicu masalah kesehatan.

Lampu-lampu billboard, lampu penerangan jalan, lampu sorot di stadion atau arena kegiatan lainnya terus menyala hingga jauh tengah malam, bahkan hingga jam 3 dini hari.

"Saya terganggu oleh cahaya terang yang menembus hingga kamar tidur, akibatnya saya tidak bisa tidur. Secara mental saya terdampak", ujar Nilesh Desai, pekerja perusahaan IT dan juga aktivis antipolusi cahaya di Mumbai. Dia sudah mengajukan keluhan kepada pemerintah tahun 2018, tapi klaimnya itu diabaikan.

Ilmu pengetahuan kini menunjukkan adanya keterkaitan antara polusi cahaya buatan dengan gangguan tidur, cedera mata, obesitas, dan dalam beberapa kasus bahkan depresi. Sebuah riset dari AS pada pekerja yang melakukan kerja shift malam pada 2007, bahkan menunjukkan adanya koneksi dengan kanker payudara. Semua itu berkorelasi dengan melatonin, hormon yang dilepaskan jika hari menjadi gelap.

Baca juga: Menurut Riset, Paparan Polusi Cahaya Malam Hari Picu Obesitas dan Kanker

"Jika tubuh kita tidak memproduksi hormon tersebut, karena kita terekspos terlalu banyak cahaya pada malam hari sebagai pekerja shift malam, akibatnya seluruh fungsi jam biologis menjadi kacau dan bermasalah", ujar pakar geoinformatika Kyba.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Makan Sembarangan Bisa Picu Fam Sering Muncul di FYP TikTok, Apa Itu?

Makan Sembarangan Bisa Picu Fam Sering Muncul di FYP TikTok, Apa Itu?

Kita
POGI Belum Rekomendasikan Vaksinasi Covid-19 untuk Ibu Hamil, Ini Alasannya

POGI Belum Rekomendasikan Vaksinasi Covid-19 untuk Ibu Hamil, Ini Alasannya

Oh Begitu
Ahli: Lokasi dan Waktu Gempa Megathrust Tidak Bisa Dipastikan

Ahli: Lokasi dan Waktu Gempa Megathrust Tidak Bisa Dipastikan

Fenomena
Jangan Lewatkan, Fenomena Bulan Perbani Akhir dan Elongasi Barat Merkurius Hari Ini

Jangan Lewatkan, Fenomena Bulan Perbani Akhir dan Elongasi Barat Merkurius Hari Ini

Fenomena
Jangan Sepelekan Bisul, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Jangan Sepelekan Bisul, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kita
Berumur 70 Tahun, Burung Liar Tertua Ini Masih Produktif Bertelur

Berumur 70 Tahun, Burung Liar Tertua Ini Masih Produktif Bertelur

Fenomena
Menristek Dukung Lapan Hadirkan Penginderaan Jauh Berbasis Digital, Ini Tujuannya

Menristek Dukung Lapan Hadirkan Penginderaan Jauh Berbasis Digital, Ini Tujuannya

Oh Begitu
Kacamata Berembun Saat Pakai Masker, Begini Cara Mengatasinya

Kacamata Berembun Saat Pakai Masker, Begini Cara Mengatasinya

Kita
[POPULER SAINS] Nia Ramadhani Telmi karena Kurang Zat Besi? | 8 Fakta Tsunami Selandia Baru

[POPULER SAINS] Nia Ramadhani Telmi karena Kurang Zat Besi? | 8 Fakta Tsunami Selandia Baru

Oh Begitu
Nenek Moyang Manusia Hidup Berdampingan dengan Dinosaurus, Ini Buktinya

Nenek Moyang Manusia Hidup Berdampingan dengan Dinosaurus, Ini Buktinya

Oh Begitu
Mengenal 4 Varian Baru Virus Corona dan Bagaimana Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawannya

Mengenal 4 Varian Baru Virus Corona dan Bagaimana Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawannya

Oh Begitu
Wahana Starship Milik SpaceX Berhasil Mendarat, tapi Langsung Meledak

Wahana Starship Milik SpaceX Berhasil Mendarat, tapi Langsung Meledak

Oh Begitu
Pertama Kali, Orangutan Dapat Suntikan Vaksin Covid-19

Pertama Kali, Orangutan Dapat Suntikan Vaksin Covid-19

Oh Begitu
Varian Corona Rusia B.1.1.317, Ini yang Harus Anda Ketahui

Varian Corona Rusia B.1.1.317, Ini yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Mengenal Potensi Gempa Megathrust dan Tsunami di Indonesia

Mengenal Potensi Gempa Megathrust dan Tsunami di Indonesia

Fenomena
komentar
Close Ads X