Membedah Rencana Misi Antariksa Hope di Mars

Kompas.com - 25/11/2020, 18:06 WIB
Planet Mars, diabadikan pada 12 Juli 2020 melalui Observatorium pendidikan Imah Noong di Lembang (Jawa Barat). Tudung es kaya air di kutub utara Mars nampak jelas. Hendro Setyanto, 2020Planet Mars, diabadikan pada 12 Juli 2020 melalui Observatorium pendidikan Imah Noong di Lembang (Jawa Barat). Tudung es kaya air di kutub utara Mars nampak jelas.

Oleh: Hendro Setyanto & Ma’rufin Sudibyo

KOMPAS.com - Sebuah kehormatan bagi kami saat berpartisipasi dalam pertemuan ilmiah internasional yang diselenggarakan secara daring (webinar) bertajuk Hope Science Journey. Kegiatan ilmiah tersebut diselenggarakan tim sains Emirates Mars Mission dari Mohammed Bin Rashid Space Centre (MBRSC) bekerja sama dengan badan antariksa Uni Emirat Arab.

Hope Science Journey bertujuan mengupas aspek–aspek observasional yang ditopang pemodelan matematis yang sedang dan akan dilakukan dalam misi antariksa Emirates Mars Mission. Aspek–aspek tersebut dipaparkan oleh delapan ilmuwan dan insinyur MBRSC, di mana seluruhnya masih berusia muda dan hampir seluruhnya adalah perempuan.

Seperti diketahui Emirates Mars Mission (EMM) adalah misi antariksa tak–berawak antarplanet pertama yang digelar Uni Emirat Arab dan juga yang pertama untuk negara–negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim sejagat. Target EMM adalah planet Mars atau dikenal pula sebagai Marikh dalam literatur ilmu falak klasik.

Sebagai kuda kerja adalah wahana antariksa Misabar al–‘ Amal yang disebut juga Hope. Hope berbentuk kubus dengan berat 1.350 kg (termasuk 800 kg propelan Hidrazin) yang mengangkut tiga instrumen: kamera cahaya tampak EXI, spektrometer inframerah EMIRS dan spektrometer ultraungu EMUS.

Al– ‘Amal ditujukan untuk meneliti dinamika lapisan atmosfer Mars secara menyeluruh hingga ke lapisan terbawah (troposfer).

Hope merupakan kolaborasi MBRSC bersama dengan Colorado University's Laboratory for Atmospheric and Space Physics dan Arizona State University. Meluncur ke langit pada 19 Juli 2020 silam dengan dorongan roket angkut Mitsubishi H-2A no. F42 dari landasan peluncuran Tanegashima (Jepang), Hope dijadwalkan tiba di Mars pada 9 Februari 2021 mendatang.

Jarak yang ditempuh sebesar 380,5 juta kilometer dan pada saat Hope Science Jouney digelar, Hope telah mengarungi jarak 297,5 juta kilometer dengan kelajuan sebesar 94.000 km/jam.

Hope Science Journey diikuti oleh para ilmuwan, pendidik, mahasiswa dan pelajar yang berasal dari negara–negara Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Amerika Serikat dan Indonesia. Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) adalah satu–satunya peserta dari Indonesia.

Bagi LFNU, kegiatan ilmiah ini juga menunjukkan ilmu falak tak sekedar terkungkung pada rutinitas perhitungan–pengukuran waktu–waktu ibadah. Namun lebih dari itu, dalam perspektif hubungan dengan Tuhan, menjadi sarana menjelajahi dan lebih memahami alam raya sebagai bagian mempertebal keimanan.

Sementara dalam perspektif hubungan antar manusia, kegiatan sejenis tak sekedar sebatas membangkitkan romantika atas sebuah peradaban yang pernah mengalami masa keemasan di masa silam. Namun juga menjadi upaya merintis kembali kebangkitan dalam lapangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Atmosfer Mars yang kita ketahui

Layaknya Bumi, Mars juga memiliki atmosfer meskipun lebih tipis. Puncak lapisan teratasnya (yakni termosfer) berada di ketinggian 230 km dari paras Mars, bandingkan dengan termosfer Bumi yang puncaknya di ketinggian 700 km.

Selain tipis, tekanan udara paras Mars sangat kecil, yakni hanya 1% tekanan udara paras Bumi. Komposisi atmosfer Mars sangat didominasi gas karbondioksida yang mencapai 95,32% disusul dengan gas nitrogen (2,6 %). Hanya ada sedikit gas oksigen (0,17 %) dan air dalam bentuk uap (0,03 %).

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Magnitudo Gempa Talaud Lebih Besar, Kenapa Tidak Separah Gempa Majene?

Magnitudo Gempa Talaud Lebih Besar, Kenapa Tidak Separah Gempa Majene?

Fenomena
Dokter: Mungkin Bupati Sleman Sudah Terinfeksi Covid-19 Sebelum Vaksin

Dokter: Mungkin Bupati Sleman Sudah Terinfeksi Covid-19 Sebelum Vaksin

Oh Begitu
Ahli: Vaksin Covid-19 di Bahu Tak Mencegah Infeksi, tapi Keparahan

Ahli: Vaksin Covid-19 di Bahu Tak Mencegah Infeksi, tapi Keparahan

Oh Begitu
Apakah Varian Baru Virus Corona Bisa Memengaruhi Hasil Vaksin?

Apakah Varian Baru Virus Corona Bisa Memengaruhi Hasil Vaksin?

Kita
Belalang Sembah Jantan Lawan Betina demi Kawin dan Bertahan Hidup

Belalang Sembah Jantan Lawan Betina demi Kawin dan Bertahan Hidup

Oh Begitu
Bupati Sleman Positif Covid-19 Usai Vaksin, Begini Penjelasan Ahli

Bupati Sleman Positif Covid-19 Usai Vaksin, Begini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Vaksin Tak 100 Persen Cegah Infeksi Covid-19, Bagaimana Keamanannya?

Vaksin Tak 100 Persen Cegah Infeksi Covid-19, Bagaimana Keamanannya?

Kita
Seperti Apa Kloaka pada Dinosaurus? Peneliti Beri Penjelasannya

Seperti Apa Kloaka pada Dinosaurus? Peneliti Beri Penjelasannya

Fenomena
6 Fakta Tunjaman Lempeng Laut Filipina yang Picu Gempa Talaud M 7,0

6 Fakta Tunjaman Lempeng Laut Filipina yang Picu Gempa Talaud M 7,0

Oh Begitu
Langka, Anak Anjing Laut Warna Hitam Ditemukan di Inggris

Langka, Anak Anjing Laut Warna Hitam Ditemukan di Inggris

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Fosil Dinosaurus Raksasa Ditemukan | Waterspot Fenomena Langka | Waspada Gelombang Tinggi

[POPULER SAINS] Fosil Dinosaurus Raksasa Ditemukan | Waterspot Fenomena Langka | Waspada Gelombang Tinggi

Oh Begitu
Tentang Asal-usul Uang, Bermula dari Zaman Perunggu Awal

Tentang Asal-usul Uang, Bermula dari Zaman Perunggu Awal

Oh Begitu
Komnas KIPI: Sejauh Ini Tak Ada Reaksi Serius Pasca-vaksinasi Covid-19

Komnas KIPI: Sejauh Ini Tak Ada Reaksi Serius Pasca-vaksinasi Covid-19

Oh Begitu
Dampak Awan Cumulonimbus, Bisa Picu Puting Beliung hingga Banjir Bandang

Dampak Awan Cumulonimbus, Bisa Picu Puting Beliung hingga Banjir Bandang

Oh Begitu
Lapan: Waterspout Waduk Gajah Mungkur Langka, Waspada hingga Februari

Lapan: Waterspout Waduk Gajah Mungkur Langka, Waspada hingga Februari

Fenomena
komentar
Close Ads X