Studi Baru Ungkap Bagaimana Terbentuknya Air di Bumi

Kompas.com - 28/08/2020, 20:02 WIB
Ilustrasi. Bumi dilihat dari ruang angkasa, fitur yang paling mencolok dari planet kita adalah air. Air berbentuk cair dan beku yang mencakup 75 persen permukaan bumi. Foto direkam Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer di satelit Terra NASA. NASAIlustrasi. Bumi dilihat dari ruang angkasa, fitur yang paling mencolok dari planet kita adalah air. Air berbentuk cair dan beku yang mencakup 75 persen permukaan bumi. Foto direkam Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer di satelit Terra NASA.


KOMPAS.com- Sejarah Bumi terus menjadi topik menarik bagi para ilmuwan untuk menguak seperti apa dulunya planet ini terbentuk. 

Studi baru yang diterbitkan di jurnal Science, Kamis (27/8/2020) mengungkapkan bahwa kemungkinan Bumi terlahir dalam keadaan yang basah. Artinya, air sebagai sumber kehidupan memang sudah ada di planet ini.

Sebelumnya, pandangan lama menyatakan bahwa planet Bumi dilahirkan dalam keadaan kering. 

Sebab, terdapat blok-blok penyusun yang terbentuk relatif dekat dengan terik matahari. Itulah alasan, bumi mendapatkan sebagian besar airnya, seperti dilansir dari Space, Jumat (28/8/2020).

Baca juga: Apa yang Terjadi pada Bumi jika Manusia Punah?

 

Namun, berdasarkan studi yang baru saja diungkapkan bahwa mungkin Bumi tidak membutuhkan serangan asteroid dan komet untuk mengisi lautan.

Lalu, bagaimana terbentuknya air di Bumi?

Menurut sebagian besar ilmuwan, Bumi mendapatkan sebagian besar airnya dari suatu dampak objek yang berasal dari kedalaman es di luar tata surya.

Ilustrasi planet BumiUnsplash/NASA Ilustrasi planet Bumi

Baca juga: NASA Selidik Anomali Medan Magnet Misterius di Bumi yang Makin Melemah

 

Peneliti telah berdebat selama bertahun-tahun tentang kemungkinan komet atau asteroid menjadi pembawa air ke Bumi. Perdebatan tersebut sebagian besar bersifat akademis.

Dalam studi baru, peneliti telah menganalisis 13 meteorit enstatite chondrite (EC) yang berbeda.

Mulai dari kelas yang diketahui mirip dengan batuan luar angkasa yang bergabung membentuk Bumi lebih dari 4,5 miliar tahun yang lalu.

Dalam studi ini, peneliti menemukan banyak hidrogen dalam meteorit yang diduga kering, sehingga cukup untuk menyiratkan bahwa Bumi yang kita tinggali dilahirkan dengan kondisi yang cukup basah.

Halaman:


Sumber Space
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X