Serangan Petir di India Tewaskan 147 Orang, Begini Analisa BMKG

Kompas.com - 08/07/2020, 07:02 WIB
Ilustrasi petir saat badai. SHUTTERSTOCKIlustrasi petir saat badai.

 

KOMPAS.com - Tercatat 147 orang di India tewas akibat sambaran atau serangan petir dalam 10 hari. Ahli mengatakan, pemicu kejadian ini adalah perubahan iklim dan ketidakstabilan skala besar di atmosfer.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Manajemen Bencana Bihar, Lakhshmeshwar Rai seperti dilansir dari Science Alert, Senin (6/7/2020).

Rai mengatakan, analisis berbagai pihak tentang serangan petir ekstrem menyimpulkan bahwa hal ini diakibatkan oleh perubahan iklim.

"Saya diberi tahu oleh para ahli cuaca, ilmuwan, dan pejabat bahwa kenaikan suhu akibat perubahan iklim adalah penyebab utama dibalik meningkatnya serangan kilat (petir)," kata Rai kepada AFP.

Baca juga: Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Ahli Agrometeorologi Bihar, Abdur Sattar mengatakan petir dan guntur itu terjadi akibat ketidakstabilan skala besar di atmosfer.

Ketidakstabilan itu dipicu oleh kenaikan suhu dan kelembaban berlebihan yang terjadi.

Menanggapi peristiwa itu, Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Miming Saepudin pun mencoba menganalisa yang terjadi.

Terbentuknya petir

Miming menjelaskan fenomena petir dapat terbentuk karena sistem awan Cumulonimbus (Cb).

Tipe awan Cb ini merupakan tipe awan hujan yang secara visual memiliki struktur yang menjulang tinggi di mana pada fase awal pertumbuhan berwarna putih dan pada fase matang akan berwarna abu kehitaman.

Awan cumulonimbus menggelayut di langit Jakarta, Minggu (4/12). Dalam sepekan ini hingga pertengahan minggu ini, sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jakarta dan sekitarnya, berpotensi diguyur hujan lebat disertai angin kencang dan petir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika meminta semua masyarakat waspada. KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Awan cumulonimbus menggelayut di langit Jakarta, Minggu (4/12). Dalam sepekan ini hingga pertengahan minggu ini, sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jakarta dan sekitarnya, berpotensi diguyur hujan lebat disertai angin kencang dan petir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika meminta semua masyarakat waspada.

"Fenomena cuaca esktrem seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, hujan es, dan bahkan petir terjadi dari sistem awan Cb," kata Miming kepada Kompas.com, Senin (6/7/2020).

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X