Permukaan Laut Naik, Hutan Mangrove Berpotensi Hilang pada 2050

Kompas.com - 07/06/2020, 11:03 WIB
Foto dirilis Jumat (17/1/2020), memperlihatkan pemandangan udara muara laut dan kawasan hutan mangrove yang tidak memiliki tanggul atau pemecah ombak sehingga pasang surut air masuk ke permukiman warga Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Abrasi yang telah berlangsung belasan tahun di pesisir utara Bekasi telah menenggelamkan rumah-rumah warga, dengan sekitar ratusan kepala keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal. ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMIFoto dirilis Jumat (17/1/2020), memperlihatkan pemandangan udara muara laut dan kawasan hutan mangrove yang tidak memiliki tanggul atau pemecah ombak sehingga pasang surut air masuk ke permukiman warga Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Abrasi yang telah berlangsung belasan tahun di pesisir utara Bekasi telah menenggelamkan rumah-rumah warga, dengan sekitar ratusan kepala keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal.

KOMPAS.com - Hutan mangrove kemungkinan akan menghilang, jika permukaan laut terus mengalami kenaikan. Peneliti memprediksi kejadian itu bakal terjadi pada tahun 2050.

Hutan mangrove atau hutan bakau menyediakan jasa ekosistem yang penting bagi manusia, tumbuhan, dan hewan di seluruh dunia.

Hutan ini berfungsi membantu menstabilkan garis pantai, memberikan perlindungan dari badai, gelombang, dan erosi pasang surut.

Sistem akar yang kompleks juga menjadi habitat bagi ikan dan hewan lainnya. Hutan bakau juga dapat menyerap 4 kali karbon dioksida lebih banyak dari hutan hujan.

Baca juga: 5 Hal Sederhana untuk Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Setidaknya, ada sekitar 80 spesies pohon bakau di dunia yang telah teridentifikasi. Semuanya tumbuh di perairan pantai yang hangat dan dangkal yang terletak di daerah tropis dan subtropis planet ini.

Sayangnya, hutan bakau ini terancam oleh kenaikan permukaan laut yang terjadi akibat emisi gas rumah kaca. Hal tersebut membuat hutan bakau berisiko tenggelam secara bertahap.

Temuan ini berdasarkan penelitian yang dilakukan tim internasional yang dipimpin oleh Neil Saintilan dari Macquarie University, Australia.

Tim penelitian menganalisis inti sedimen dari 78 tempat tropis dan subtropis untuk mengetahui bagaimana hutan bakau menanggapi perubahan kenaikan permukaan laut di masa lalu.

Dengan menggunakan model komputer, para peneliti kemudian memperkirakan peluang hutan bakau di masa depan berdasarkan pada berbagai skenario emisi gas rumah kaca.

Hasilnya, peneliti menemukan ketika tingkat kenaikan permukaan laut melebih 6-7 milimeter per tahun maka pohon bakau kemungkinan tidak akan mampu bertahan dari kenaikan air.

Baca juga: Ahli: Permukaan Laut Tetap Naik Dramatis Meski Gas Rumah Kaca Dibatasi

"Saat ini kenaikan permukaan laut hanya lebih dari 3 milimeter per tahun. Jika tingkat kenaikannya dua kali lipat, hutan bakau dalam masalah serius dan perlahan-lahan tenggelam," ungkap Neil Saintilan, seperti dikutip dari Newsweek, Sabtu (6/6/2020).

Lebih lanjut ia mengungkapkan, manusia punya kekuatan untuk menentukan apakah hutan bakau di dunia akan menghilang atau tidak. Itu semua bergantung pada seberapa baik kita mengendalikan emisi gas rumah kaca.

Namun jika upaya itu tak dilakukan, hilangnya hutan bakau bisa menjadi salah satu penyebab kehidupan di dunia makin buruk.

Penelitian telah dipublikasikan dalam jurnal Science.



Sumber Newsweek
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X