Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 03/04/2020, 13:00 WIB
Ellyvon Pranita,
Gloria Setyvani Putri

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di kala banyak negara lain berhasil menekan transmisi Covid-19 dengan cara lockdown, Pemerintah Indonesia tidak memilih cara ini sebagai solusi memerangi virus corona.

Seorang Epidemiologist Researcher Imperial College London, Dr Dian Kusuma, menyarankan, Indonesia masih perlu melakukan lockdown, meskipun sistemnya bisa berbeda dengan lockdown yang dilakukan oleh negara lain.

Dian menuturkan, ia telah mengirimkan memo soal rekomendasi lockdown untuk negara Indonesia sekitar 10 hari sebelum tanggal 30 Maret 2020.

Dalam memo yang dikirimkannya tersebut, Dian menceritakan pengalaman negara-negara lain dan keberhasilan dalam menangani kasus Covid-19 yang sedang mewabah di lebih dari 200 negara saat ini.

Baca juga: Jumlah Kasus Corona Global Capai 1 Juta, Berikut Kilas Balik Pandemi Covid-19

Diakui Dian, memang tidak semua negara melakukan dan memiliki pengalaman dalam melakukan lockdown atas persoalan pandemik penyakit. Jadi yang terbayangkan saat menyebut kata lockdown adalah sistem yang diberlakukan oleh negara China.

Lockdown yang dilakukan di China, seperti yang diketahui adalah melakukan penutupan akses keluar dan masuk di wilayah Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, yang sekaligus merupakan asal mula pandemik virus corona baru SARS-CoV-2.

Tidak hanya akses, masyarakat di kota terisolasi itu pada masa lockdown memang tidak diperbolehkan untuk melakukan segala aktivitas di luar rumahnya, termasuk tidak boleh mengungsi ke daerah lain.

Lockdown yang berlangsung hampir dua bulan di Wuhan tidak hanya membuat kota itu seperti kota tak berpenghuni. Saat lockdown dilakukan, stok kebutuhan makanan juga sempat hampir menipis.

"Karena seluruh dunia ini belum pernah ngalamin lockdown penyakit, jadi yang terbayang yang di China kemarin. Tapi, yang saya sampaikan di memo, ada banyak contoh di negara lain yang enggak begitu (seperti sistem lockdown di China)," kata Dian dalam diskusi online bertajuk "Covid-19: Tantangan Saat Ini dan Alternatif Solusi Berbasis Bukti" oleh Mata Garuda, Senin (30/3/2020).

Dian mencontohkan, Malaysia melakukan lockdown yang sifatnya karantina wilayah parsial. Jadi untuk kebutuhan pokok, pembersihan, dan petugas kesehatan tetap terus berjalan.

"Tapi yang bisa working from home (WFH) ya WFH, yang private bisa rolling 50-50," kata dia.

Pekerja migran memadati terminal bus untuk kembali ke kampung halaman mereka saat diberlakukan lockdown selama 21 hari secara nasional untuk menekan penyebaran virus corona (COVID-19), di Ghaziabad, pinggiran New Delhi, India, Sabtu (28/3/2020).ANTARA FOTO/REUTERS/ANUSHREE FADNAVIS Pekerja migran memadati terminal bus untuk kembali ke kampung halaman mereka saat diberlakukan lockdown selama 21 hari secara nasional untuk menekan penyebaran virus corona (COVID-19), di Ghaziabad, pinggiran New Delhi, India, Sabtu (28/3/2020).
Di Eropa juga melakukan lockdown. Namun, orang-orang masih bisa melakukan joging sendiri-sendiri, masih bisa ke supermarket, meskipun tidak setiap hari.

Hanya saja, untuk berkumpul ataupun berjemur matahari secara ramai memang sudah tidak diperbolehkan lagi.

"Perlu untuk staf kepresidenan melihat contoh-contoh lain selain India, Manila, dan Wuhan untuk membayangkan soal lockdown (seperti apa)," ujar dia.

Baca juga: Indonesia Tak Pilih Lockdown sebagai Solusi, Ini Alasannya...

Kenapa lockdown atau karantina wilayah itu penting dilakukan?

Menurut Dian, lockdown ini akan memberikan waktu kepada Pemerintah Indonesia yang saat ini sedang membenahi testing untuk pasien, fasilitas termasuk APD, ICU, dan ventilator yang kurang, juga ruang isolasi yang mencukupi serta keperluan medis lainnya dalam membantu penyembuhan pasien Covid-19.

Masyarakat bukan hanya diimbau, melainkan presiden dan pemerintah memang diharuskan WFH bagi mereka yang pekerjaannya bisa WFH.

Jangan berkeliaran dengan segala kegiatan seperti yang umumnya dahulu dilakukan, kecuali para pekerja kebutuhan pokok, petugas kebersihan, dan petugas medis.

Dengan demikian, ini juga akan membantu pasien sakit Covid-19 akan sedikit, dan antrean di rumah sakit untuk segera ditangani juga bisa teratasi dengan optimal oleh petugas medis.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com