Hampir 50 Persen Wilayah Indonesia Terlambat Musim Kemarau, Kok Bisa?

Kompas.com - 24/03/2020, 17:31 WIB
Sejumlah hewan ternak sapi mencari makan di lahan yang mengering di Kecamatan Kayangan, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Senin (21/10/2019). Menurut data BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, wilayah NTB saat masih berada di periode musim kemarau dan diprakirakan masih akan berlangsung hingga bulan November 2019 dan masyarakat diimbau agar tetap waspada serta berhati-hati terhadap dampak yang ditimbulkan seperti kekeringan, kekurangan ketersediaan air bersih dan potensi kebakaran lahan di sebagian besar wilayah NTB. ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDISejumlah hewan ternak sapi mencari makan di lahan yang mengering di Kecamatan Kayangan, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Senin (21/10/2019). Menurut data BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, wilayah NTB saat masih berada di periode musim kemarau dan diprakirakan masih akan berlangsung hingga bulan November 2019 dan masyarakat diimbau agar tetap waspada serta berhati-hati terhadap dampak yang ditimbulkan seperti kekeringan, kekurangan ketersediaan air bersih dan potensi kebakaran lahan di sebagian besar wilayah NTB.


KOMPAS.com- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) menyebutkan awal musim kemarau pada bulan April 2020, di hampir setengah wilayah Indonesia mengalami keterlambatan musim.

Disampaikan oleh Kepala BMKG Dwikorita Karnawati MSc, terdapat sekitar 43 persen zona musim akan terlambat memasuki musim kemarau.

Awal musim kemarau tahun 2020 dimulai bervariasi, sebanyak 19,3 persen daerah zona musim (ZOM) diprediksi akan memasuki musim kemarau lebih awal.

Sedangkan sebanyak 37,4 persen ZOM sama seperti biasanya dan sebanyak 43,3 persen ZOM lebih lambat dari biasanya.

Baca juga: BMKG: Jabodetabek Masih Musim Kemarau, Hujan Hanya Sementara

Kenapa musim kemarau terlambat?

BMKG hingga pertengahan Maret 2020 melakukan pemantauan terhadap anomali iklim global di dua samudera.

Di antaranya yaitu Samudera Pasifik Ekuator dan Samudera Hindia, yang menunjukkan tidak terdapat indikasi akan munculnya anomali iklim El Nino atau La Nina dan Dipole Mode (Indian Ocean Dipole Mode).

Kondisi ENSO

Indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan wilayah Pasifik tengah dalam kondisi netral (indeks Nino 3,4 = 0,41), demikian juga IOD dalam kondisi netral (indeks DM= -0,29).

"Kondisi ENSO Netral diprediksi bertahan hingga Agustus 2020," kata Dwikorita dalam keterangan tertulisnya, Senin (23/3/2020).

Baca juga: Indonesia Masih Musim Kemarau, Kok Medan dan Aceh Sudah Hujan?

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X