Gempa Sukabumi Terkait Zona Megathrust Selatan Jawa? Ini Kata Ahli

Kompas.com - 13/03/2020, 12:03 WIB
Salah satu bangunan rumah ambruk terdampak gempa magnitudo 5 di Desa Pulosari, Kecamatan Kalapanunggal, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (11/3/2020). KOMPAS.COM/BUDIYANTOSalah satu bangunan rumah ambruk terdampak gempa magnitudo 5 di Desa Pulosari, Kecamatan Kalapanunggal, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (11/3/2020).

KOMPAS.com - Selasa (10/3/2020), wilayah Sukabumi diguncang gempa bumi tektonik bermagnitudo 5,1 yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif.

Kejadian ini bertepatan dengan dikeluarkannya hasil kajian simulasi potensi gempa bumi dan tsunami di Zona Megathrust Sukabumi dan enam wilayah lainnya di selatan Jawa.

Hasil simulasi pemodelan menunjukkan bahwa gempa bisa mencapai M 8,7.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah gempa bumi kemarin ada kaitannya dengan kajian simulasi Zona Megathurst Sukabumi sebelumnya?

Baca juga: Begini Analisis Simulasi Gempa dan Tsunami di Zona Megathrust Sukabumi

Menjawab hal ini, Ahli Tsunami Widjo Kongko berkata kepada Kompas.com bahwa keduanya belum bisa dipastikan berkaitan atau tidak.

"Saya berharap ini tidak terkait," kata Widjo, Selasa (10/3/2020).

Dia lantas menjelaskan bahwa lindu terakhir yang terjadi di Sukabumi merupakan sesar lokal, dan berbeda sumber mekanismenya dengan lindu Megathrust Selatan Jawa yang dapat menimbulkan smong atau tsunami.

Kendati berbeda dengan Megathrust Selatan Jawa, lindu ini menjadi pengingat agar semua dapat selalu waspada, karena daerah ini merupakan daerah rentan lindu.

"Tapi saya berharap lindu ini jadi momentum untuk tingkatkan kesiapsiagaan atau mitigasi kita semua," kata Widjo.

Baca juga: Gempa Sukabumi Terasa Sampai Jakarta, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Gempa Sukabumi Terkuat dalam 19 Tahun

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa gempa Sukabumi yang terjadi Selasa merupakan gempa dengan magnitudo paling kuat yang bersumber dari sesar aktif di daratan Jawa Barat sejak 19 tahun terakhir.

Berdasarkan catatan katalog gempa, tampak bahwa gempa kuat dengan pusat di darat terakhir yang terjadi di Jawa Barat berkekuatan M=5,1. Gempa ini terjadi di Ciamis-Kuningan pada 13 Januari 2001.

Disampaikan oleh Ahli Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, hasil analisis peta tingkat guncangan gempa (shake map) yang dipublikasikan oleh BMKG sesaat setelah gempa dan sekitarnya menunjukkan warna kuning.

Artinya, dampak gempa mencapai skala intensitas VI MMI.

Estimasi terjadinya kerusakan akibat gempa oleh BMKG ini sangat akurat dan ditunjukkan dengan bukti terjadinya kerusakan di lapangan.

Baca juga: Gempa Hari Ini: M 5.0 Guncang Sukabumi, Tidak Berpotensi Tsunami

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Anak-anak Bisa Jadi Pembawa Corona Tanpa Gejala, Ini Penjelasannya

Anak-anak Bisa Jadi Pembawa Corona Tanpa Gejala, Ini Penjelasannya

Fenomena
Infeksi Corona Tanpa Gejala, Studi Temukan di Negara-negara ini

Infeksi Corona Tanpa Gejala, Studi Temukan di Negara-negara ini

Fenomena
Pandemi Corona Bikin Getaran di Muka Bumi Berkurang, Ini Penjelasannya

Pandemi Corona Bikin Getaran di Muka Bumi Berkurang, Ini Penjelasannya

Fenomena
Fosil Gigi Ungkap Anjing Laut Tanpa Telinga Pernah Hidup di Australia

Fosil Gigi Ungkap Anjing Laut Tanpa Telinga Pernah Hidup di Australia

Fenomena
Syekh Puji Nikahi Bocah 7 Tahun, Ahli Sebut Harus Diperiksa Menyeluruh

Syekh Puji Nikahi Bocah 7 Tahun, Ahli Sebut Harus Diperiksa Menyeluruh

Oh Begitu
Kajian BMKG-UGM, Cuaca dan Iklim Memang Pengaruhi Wabah Corona, tapi...

Kajian BMKG-UGM, Cuaca dan Iklim Memang Pengaruhi Wabah Corona, tapi...

Oh Begitu
Ahli Peringatkan, Corona Bukan Pandemi Terakhir yang Dihadapi Dunia

Ahli Peringatkan, Corona Bukan Pandemi Terakhir yang Dihadapi Dunia

Oh Begitu
Kebakaran Australia Berakhir, Koala Mulai Dilepas Kembali ke Alam Liar

Kebakaran Australia Berakhir, Koala Mulai Dilepas Kembali ke Alam Liar

Oh Begitu
Ilmuwan Gunakan Selembar Kertas untuk Temukan Corona dalam Air Limbah

Ilmuwan Gunakan Selembar Kertas untuk Temukan Corona dalam Air Limbah

Fenomena
Disebut Gejalanya Mirip, Demam Covid-19 Lebih Jarang Dibanding SARS

Disebut Gejalanya Mirip, Demam Covid-19 Lebih Jarang Dibanding SARS

Oh Begitu
Ahli Perkirakan, Ekosistem Laut Dunia Akan Kembali Pulih pada 2050

Ahli Perkirakan, Ekosistem Laut Dunia Akan Kembali Pulih pada 2050

Oh Begitu
Mengenal IPAG60, Teknologi Pengolah Air Gambut Jadi Air Bersih

Mengenal IPAG60, Teknologi Pengolah Air Gambut Jadi Air Bersih

Oh Begitu
Karakter Klinis Covid-19, Tunjukkan Keparahan dan Kematian Corona

Karakter Klinis Covid-19, Tunjukkan Keparahan dan Kematian Corona

Oh Begitu
Bocah 7 Tahun Diduga Dinikahi Syekh Puji, Seperti Apa Dampak Psikologisnya?

Bocah 7 Tahun Diduga Dinikahi Syekh Puji, Seperti Apa Dampak Psikologisnya?

Oh Begitu
Kasus Syekh Puji Nikahi Anak 7 Tahun, Ini Tanggapan Psikolog Anak

Kasus Syekh Puji Nikahi Anak 7 Tahun, Ini Tanggapan Psikolog Anak

Oh Begitu
komentar
Close Ads X