Kompas.com - 16/11/2017, 17:00 WIB
Dokter Kesehatan Hewan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memeriksa salah satu dari empat ekor paus yang mati pascaterdampar di Pantai Desa Durung, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa (14/11/2017). Sebanyak empat ekor ikan paus mati menjadi tontotan warga meskipun petugas Kesehatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama aparat keamanan setempat telah memasang garis polisi sebagai larangan memasuki lokasi bangkai ikan tersebut karena dikhawatirkan menularkan penyakit berbahaya. Sementara itu enam ikan paus lainnya berhasil diselamatkan ke perairan lepas. ANTARA FOTO/AMPELSADokter Kesehatan Hewan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memeriksa salah satu dari empat ekor paus yang mati pascaterdampar di Pantai Desa Durung, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa (14/11/2017). Sebanyak empat ekor ikan paus mati menjadi tontotan warga meskipun petugas Kesehatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama aparat keamanan setempat telah memasang garis polisi sebagai larangan memasuki lokasi bangkai ikan tersebut karena dikhawatirkan menularkan penyakit berbahaya. Sementara itu enam ikan paus lainnya berhasil diselamatkan ke perairan lepas.

Ambergris sendiri memang dikenal sebagai pengawet parfum yang berharga fantastis. Padahal setelah keluar dari tubuh paus, ambergris memiliki bau busuk dan berwarna persis seperti kotoran.

Baca Juga: 10 Paus Sperma Terdampar di Aceh, Butuh Penanganan Ahli

Namun lama kelamaan, bau ini berubah menjadi wangi. Warnanya pun semakin lama berubah menjadi abu-abu.

Dirangkum dari Scientific American, 26 April 2007,  matahari, udara, dan air laut mengoksidasi massa ambergris, airnya pun terus menguap. Hal ini membuat ambergris mengeras dan pecah menjadi potongan yang lebih kecil yang mengambang di laut sebelum sampai ke bibir pantai.

Potongan yang lapuk (sudah lama di laut), akan memancarkan aroma manis dan harum yang sering disamakan dengan bau tembakau, pinus, atau musk.

"Kualitas dan nilai dari ambergris ini bergantung pada berapa lama ia mengambang di laut atau menua," kata Bernard Perrin, pakar ambergris.

George Preti, seorang ahli kimia wewangian dari Monell Chemical Senses Center mengatakan, ambergris sangat disukai sebagai pengawet parfum karena molekulnya yang bersifat lipofilik, mirip dengan molekul parfum. Hanya saja molekul ambergris lebih berat dan besar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Molekul bau memiliki afinitas tinggi untuk molekul liofilik lainnya, jadi keduanya berhubungan dengan molekul ambergris dan tidak memasuki fase penguapan sekaligus," kata Preti.

Selain hal yang disebutkan di atas, hingga saat ini masih banyak misteri tentang ambergris yang belum terpecahkan. Seperti mengapa benda ini banyak ditemu di belahan bumi selatan, padahal paus sperma berenang ke seluruh lautan dunia? Atau, mengapa hanya paus sperma, terutama yang jantan, yang mengeluarkan benda ini?

Baca juga: Sekelompok Paus Ditemukan Berdiri di Lautan, Apa yang Terjadi?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X