Perluas Jangkauan Gas Bumi di Jawa Tengah, Jumperline Tambak Lorok Diresmikan

Kompas.com - 10/06/2021, 14:00 WIB
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) meresmikan Jumperline Tambak Lorok, Semarang, Jawa Tengah. Dok. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN)PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) meresmikan Jumperline Tambak Lorok, Semarang, Jawa Tengah.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN meresmikan Jumperline
Tambak Lorok dari Pipa Transmisi Offshore PT Kalimantan Jawa Gas (KJG) hingga Pipa Interkoneksi Tambak Rejo Tambak Lorok (TRTL), Semarang, Jawa Tengah, Rabu (09/06/2021).

Infrastruktur gas sepanjang 50 meter ini akan mengalirkan gas dari Lapangan Kepodang dengan estimasi sekitar 10-20 BBTUD.

Direktur Utama PGN M Haryo Yunianto menuturkan, kehadiran jumperline pipa ini dapat meningkatkan keandalan dan fleksibilitas infrastruktur.

Ini juga termasuk untuk memudahkan PGN memperluas jangkauan pemanfaatan gas bumi ke seluruh sektor selain kelistrikan seperti industri, komersial, rumah tangga, dan transportasi di Jawa Tengah.

"Jumperline  juga sangat strategis bagi keandalan pasokan gas multisource dan optimalisasi pemanfaatan domestik, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ucap Haryo dalam siaran pers, Rabu (09/06/2021).

Direktur Sales dan Operasi PGN Faris Aziz menambahkan, pipa jumper juga dapat menyalurkan gas dari Lapangan Kepodang ke induk stasiun CNG Semarang yang dapat dimanfaatkan untuk melayani pelanggan di luar jangkauan pipa.

Baca juga: PGN Jamin Pasokan dan Kemudahan Layanan di Bandarlampung

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

PGN bersama Pertagas Niaga juga akan berniaga sama melalui stasiun induk sebesar ± 3 BBTUD untuk menjangkau wilayah baru demi menumbuhkan titik ekonomi baru di Jawa Tengah dan sekitarnya.

Demand (permintaan) gas di wilayah Semarang sangat potensial sehingga adanya pipa jumper dapat memenuhi kebutuhan gas di Tambak Aji. Selain itu, gas dapat disalurkan ke SPBG Kaligawe sekitar 1 (satu) BBTUD, di mana 70 persen untuk armada Trans Semarang kurang lebih 200 unit dan 30 persen untuk ritel,” terang Faris.

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang pun telah merealisasikan konversi bahan bakar solar ke gas (CNG) pada Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang pada tahun 2019 lalu.

Konversi dari solar ke gas ini menggunakan sistem retrofit yaitu gas dan solar digunakan sebagai cadangan.

Dengan menggunakan gas, emisi kendaraan lebih rendah dan ramah lingkungan dan biaya operasional menjadi lebih hemat.

Sementara itu, Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN Achmad Muchtasyar berharap, optimalisasi infrastruktur distribusi gas bumi untuk memenuhi kebutuhan energi diharapkan
bisa berdampak positif bagi kemajuan perekonomian Jawa Tengah.

"Mengingat dalam waktu dekat tengah menyiapkan uji komersial untuk pengoperasian pipa transmisi gas bumi Gresik-Semarang sepanjang 268 kilometer,” tuntas dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X