Sofyan Djalil Sebut Mafia Tanah Juga Gunakan Buzzer di Media Sosial

Kompas.com - 11/11/2020, 20:21 WIB
Menteri ATR/BPN Sofyan A. Djalil saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Tahun 2020 di Hotel Shangri-la, Jakarta, Selasa, (21/1/2020). Dok. Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional Menteri ATR/BPN Sofyan A. Djalil saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Tahun 2020 di Hotel Shangri-la, Jakarta, Selasa, (21/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Negara (ATR/ BPN) mencatat, sengketa konflik dan perkara pengadilan mengenai pertanahan berjumlah 9.000 kasus hingga Oktober 2020.

Jumlah kasus konflik pertanahan ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan A Djalil mengatakan, salah satu penyebab maraknya sengketa pertanahan tersebut berasal dari mafia tanah.

"Kami keras sekali dengan mafia tanah. Tapi untuk diketahui, mafia itu juga fight back (melawan)," tegas Sofyan dalam konferensi pers virtual, Selasa (11/11/2020).

Bahkan, mafia tanah tersebut menggunakan jasa  buzzer di platform media sosial untuk melawan Pemerintah.

Baca juga: Konflik Pertanahan 9.000 Kasus, Pengamat Sarankan Pemerintah Bagi-bagi Tanah

Sofyan mengatakan, mafia tanah tersebut menggunakan skenario seolah-olah mereka menjadi korban.

Namun, Pemerintah terus berupaya untuk melawan mafia tanah dengan terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, Polri, Kejaksaan Agung (Kejagung).

Sofyan pun bercerita, dia terpaksa menghukum 9 pejabat BPN di Jakarta Timur dengan melakukan pemecatan atau pencopotan jabatan dan diasingkan ke tempat jauh.

Hal ini disebabkan para pejabat telah melakukan pelanggaran yang membuat mafia tanah bergerak bebas.

Sejauh ini, Kementerian ATR/BPN telah menangkap banyak mafia tanah di Medan yang mana menjadi lokasi paling banyak mafia tanah.

Menurut Sofyan, bekerja dalam memerangi mafia tanah bukan pekerjaan mudah, namun pihaknya sangat keras dalam memberantas mereka.

"Oleh sebab itu, kasus sengketa oleh mafia tanah akan berkurang ke depan. Karena, mafia tanah akan berpikir dua hingga tiga kali sebelum melakukan kerja mafianya ini," pungkas Sofyan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X