Para Uskup Katolik Kanada Minta Maaf Atas Kasus Pelecehan Anak di Sekolah Asrama

Kompas.com - 25/09/2021, 21:46 WIB
Tugu peringatan di luar Sekolah Asrama di Kamloops, British Columbia., Minggu, 13 Juni 2021. AP PHOTO/JONATHAN HAYWARDTugu peringatan di luar Sekolah Asrama di Kamloops, British Columbia., Minggu, 13 Juni 2021.

OTTAWA, KOMPAS.com - Uskup Katolik di Kanada meminta maaf “dengan tegas” kepada masyarakat adat Kanada atas pelecehan anak selama satu abad di sekolah-sekolah asrama, yang dikelola gereja.

Pendidikan itu merupakan bagian dari program pemerintah Kanada untuk “mengasimilasikan” mereka ke dalam masyarakat Kanada.

Baca juga: Jenazah Anak Korban Genosida Ditemukan, Hari Kanada 2021 Dibatalkan

Tetapi langkah tersebut masih jauh dari rekomendasi agar Paus Fransiskus, sebagai pemimpin Gereja Katolik Roma, juga meminta maaf.

“Kami mengakui pelanggaran berat yang dilakukan oleh beberapa anggota komunitas Katolik kami; fisik, psikologis, emosional, spiritual, budaya, dan seksual,” menurut pernyataan dari Konferensi Waligereja Katolik Kanada yang diterbitkan pada Jumat (24/9/2021) melansir Reuters.

Lebih lanjut dalam pernyataan itu mengatakan, para Uskup Katolik Kanada bersama dengan entitas Katolik yang terlibat langsung dalam pengoperasian sekolah, menyampaikan permintaan maaf yang tulus.

“Kami mengungkapkan penyesalan mendalam kami dan meminta maaf dengan tegas,” kata pernyataan itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pengalaman anak-anak Pribumi, dipisahkan secara paksa dari keluarga mereka di bawah kebijakan pemerintah Kanada, menjadi sorotan setelah survei radar menemukan bukti jasad lebih dari 1.000 anak-anak yang dikuburkan di daerah yang tidak ditandai.

Temuan beberapa bulan terakhir itu berada di halaman asrama yang dikelola gereja. Mereka kemudian digambarkan sebagai korban genosida budaya.

Baca juga: Patung Ratu Elizabeth II dan Ratu Victoria Dihancurkan, Buntut Temuan Makam Massal Anak Kanada

Pada Juni, Paus Fransiskus mengungkapkan rasa sakitnya atas penemuan jasad 215 anak di sebuah sekolah asrama yang dikelola gereja, tetapi tidak menyampaikan permintaan maaf.

Sistem, yang beroperasi antara 1831 dan 1996, memindahkan sekitar 150.000 anak-anak Pribumi dari keluarga mereka. Mereka lalu dibawa ke sekolah asrama Kristen yang dijalankan atas nama pemerintah federal.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.