Demo Anti-Perancis Menjalar ke Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan

Kompas.com - 30/10/2020, 22:01 WIB
Para pendukung Islami Andolan Bangladesh, sebuah partai politik Islam, membawa guntingan foto Presiden Perancis Emmanuel Macron dengan kalung di sekelilingnya saat mereka memprotes penerbitan karikatur Nabi Muhammad yang mereka anggap menghujat, di Dhaka, Bangladesh, Selasa (27/10/2020). Muslim di Timur Tengah dan sekitarnya pada Senin menyerukan boikot produk Perancis dan protes atas karikatur, tetapi Macron telah berjanji negaranya tidak akan mundur dari cita-cita sekuler dan pembelaan kebebasan berbicara. AP/Mahmud Hossain OpuPara pendukung Islami Andolan Bangladesh, sebuah partai politik Islam, membawa guntingan foto Presiden Perancis Emmanuel Macron dengan kalung di sekelilingnya saat mereka memprotes penerbitan karikatur Nabi Muhammad yang mereka anggap menghujat, di Dhaka, Bangladesh, Selasa (27/10/2020). Muslim di Timur Tengah dan sekitarnya pada Senin menyerukan boikot produk Perancis dan protes atas karikatur, tetapi Macron telah berjanji negaranya tidak akan mundur dari cita-cita sekuler dan pembelaan kebebasan berbicara.

DHAKA, KOMPAS.com - Asia Selatan turut bergejolak atas kontroversi kartun Nabi Muhammad di Perancis. Ribuan orang turun ke jalanan di Bangladesh untuk membakar potret raksasa Presiden Emmanuel Macron pada Jumat (30/10/2020) dan menyerukan boikot produk-produk Perancis.

Macron membela kebebasan berekspresi awal bulan ini, setelah pemenggalan kepala seorang guru di luar Paris yang menujukkan kartun Nabi Muhammad ke para muridnya di kelas.

Kumpulan massa turun ke jalanan di Dhaka untuk mengecam Macron setelah shalat Jumat. Itu adalah demo anti-Perancis kedua di ibu kota Bangladesh dalam lima hari terakhir.

Baca juga: Twitnya soal Islam dan Perancis Dihapus Twitter, Mahathir: Tidak Adil

Polisi mengatakan, 12.000 orang ikut serta dalam unjuk rasa di Dhaka, tapi pengamat dan penyelenggara mengklaim ada lebih dari 40.000 orang yang ikut berdemo.

"Perancis menghina dua miliar umat Islam di dunia. Presiden Macron harus meminta maaf atas kejahatannya," kata Gazi Ataur Rahman pemimpin senior Islami Andolan Bangladesh, salah satu partai politik yang menggalang protes.

Sementara itu demonstrasi di Pakistan berlangsung ricuh, dengan batu-batu dilemparkan ke arah polisi dan gas air mata ditembakkan aparat untuk membubarkan massa.

Baca juga: Pesan Terakhir Ibu 3 Anak yang jadi Korban Penyerangan di Gereja Nice Perancis

Kemudian sekitar 2.000 demonstran di Islamabad berjalan menuju Kedutaan Besar Perancis, menyingkirkan kontainer barang yang dipasang untuk menutup jalan mereka.

Demo kecil juga terjadi di Afghanistan, dengan ribuan orang di Herat meneriakkan "Matilah Perancis! Matilah Macron!"

Kantor Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjanji akan menempuh "tindakan hukum dan diplomatik" atas kartun itu, sementara tv pemerintah NTV mengatakan Ankara telah memanggil seorang diplomat senior dari Kedubes Perancis.

Baca juga: Kecam Pernyataan Emmanuel Macron, Umat Islam Semarang Serukan Boikot Produk Perancis

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyebut pembelaan Macron atas publikasi itu sebagai "tindakan bodoh" dan "penghinaan" bagi mereka yang membelanya.

Bahkan di India di mana pemerintah nasionalis Hindu sangat mendukung Macron, para pemimpin komunitas Muslim minoritas di negara itu menyerukan boikot barang-barang Perancis.

Baca juga: Tersangka Pembunuhan di Gereja Perancis: Pria Tunisia Berusia 21 Tahun


Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dikepung Pasukan Etiopia, Pemimpin Tigray: Kami Siap Mati

Dikepung Pasukan Etiopia, Pemimpin Tigray: Kami Siap Mati

Global
Kuburan Massal di Wilayah Kartel Meksiko Ungkap 113 Mayat Korban Pembantaian

Kuburan Massal di Wilayah Kartel Meksiko Ungkap 113 Mayat Korban Pembantaian

Global
Arab Saudi Bantah Putra Mahkota MBS Bicara dengan PM Israel dan Menlu AS

Arab Saudi Bantah Putra Mahkota MBS Bicara dengan PM Israel dan Menlu AS

Global
Pengakuan Anak yang Dipaksa Ancam Trump dalam Video ISIS: Lega Bisa Pulang

Pengakuan Anak yang Dipaksa Ancam Trump dalam Video ISIS: Lega Bisa Pulang

Global
Langgar Lockdown demi Pukul Wajah Lawannya, Seorang Pria Ditangkap dan Didenda

Langgar Lockdown demi Pukul Wajah Lawannya, Seorang Pria Ditangkap dan Didenda

Global
Sambil Mengisap Rokok, Pria Selamatkan Anjingnya dari Rahang Alligator

Sambil Mengisap Rokok, Pria Selamatkan Anjingnya dari Rahang Alligator

Global
Raja Thailand Bisa Diusir Jika Terbukti Memerintah dari Jerman

Raja Thailand Bisa Diusir Jika Terbukti Memerintah dari Jerman

Global
PM Israel Gelar Pembicaraan Rahasia dengan Putra Mahkota Saudi dan Menlu AS

PM Israel Gelar Pembicaraan Rahasia dengan Putra Mahkota Saudi dan Menlu AS

Global
Pria Tunawisma Ini Ditemukan Tewas Membeku di Depan Gereja yang Sering Dikunjunginya

Pria Tunawisma Ini Ditemukan Tewas Membeku di Depan Gereja yang Sering Dikunjunginya

Global
Al-Qaeda Cabang Afrika Utara Tunjuk Pemimpin Baru, Ini Sebabnya

Al-Qaeda Cabang Afrika Utara Tunjuk Pemimpin Baru, Ini Sebabnya

Global
PBB Peringatkan Kondisi Anak-anak dan Masa Depan yang Terancam karena Pandemi Corona

PBB Peringatkan Kondisi Anak-anak dan Masa Depan yang Terancam karena Pandemi Corona

Global
Laksamana AS Dikabarkan Kunjungi Taiwan Diam-diam, Ini Respons China

Laksamana AS Dikabarkan Kunjungi Taiwan Diam-diam, Ini Respons China

Global
Tukar dengan India, Indonesia Jadi Tuan Rumah KTT G20 di 2022

Tukar dengan India, Indonesia Jadi Tuan Rumah KTT G20 di 2022

Global
Peminat Bahasa Indonesia Turun Drastis di Australia, Pemerintah RI Didesak Ikut Bantu

Peminat Bahasa Indonesia Turun Drastis di Australia, Pemerintah RI Didesak Ikut Bantu

Global
Salah 1 Pencetus Ice Bucket Challenge Meninggal karena ALS di Usia 37 Tahun

Salah 1 Pencetus Ice Bucket Challenge Meninggal karena ALS di Usia 37 Tahun

Global
komentar
Close Ads X