Menteri Jerman Larang Raja Thailand Memerintah dari Negara Mereka

Kompas.com - 10/10/2020, 16:16 WIB
Maha Vajiralongkorn PORNCHAI KITTIWONGSAKUL / AFP Maha Vajiralongkorn

BERLIN, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas menyatakan, dia meminta Raja Thailand untuk tak menggelar kegiatan pemerintahan di negara mereka.

Maas menegaskannya saat menjawab anggota Bundestag (parlemen Jerman) dari Partai Hijau, di mana Raja Maha Vajiralongkon tengah mengalami gejolak di negerinya.

"Kami telah menegaskan politik yang menyangkut Thailand tidak boleh digelar di tanah Jerman," ujar Maas dalam rapat dengar parlemen Rabu (7/10/2020).

Baca juga: Demo di Depan Vila Raja Thailand, Aktivis Pasang Plakat Negara Milik Rakyat

Sang menlu menyatakan, dia mengibaratkan jika ada tamu yang sampai memerintah di engaranya, maka mereka bakal berusaha mencegahnya.

Respons Maas itu muncul setelah ribuan orang berunjuk rasa dalam beberapa bulan terakhir, di mana mereka menyerukan reformasi monarki.

Dilansir Reuters Kamis (8/10/2020), massa berniat membatasi kekuasaan Raja Thailand, mendesak Perdana Menteri Prayuth Chan-O-Cha mundur, reformasi konstitusi dan pemilihan baru.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Politisi Partai Hijau Frithjof Schmidt kemudian menanyakan kepada Maas mengenai unjuk rasa yang dilakukan di hotel tempat Raja Vajiralongkon menginap.

Selain itu, Frithjof juga mendiskusikan apakah Berlin siap untuk membuka ruang diskusi dengan Uni Eropa mengenai pembekuan perjanjian dagang.

Dalam pandangan Frithjof, pembekuan itu diperlukan selama junta yang menguasai "Negeri Gajah Putih" masih menghalangi demokrasi.

Baca juga: Mulai Berani Pertanyakan Raja Thailand, Anak Muda Ini Jadi Sorotan

Uni Eropa dilaporkan sempat menghentikan hubungan dengan Bangkok pada 2014, menyusul kudeta yang mengantarkan Prayuth ke kekuasaan pada 2014.

Setelah itu, mereka baru memulihkan hubungan lima tahun berselang setelah Prayuth kembali mengamankan posisinya dalam pemilu.

Maas kemudian menjawab bahwa membekukan negosiasi adalah 'pilihan". Namun, dia berujar alangkah baiknya jika mereka memberi tahu Thailand dulu.

Baik pihak istana maupun pemerintahan PM Prayuth sama sekali tak memberikan tanggapan atas pernyataan yang keluar dari Menlu Maas.

Raja Vajiralongkon menggantikan ayahnya, Raja Bhumibol Adulyadej, yang meninggal pada 2016. Namun, dia lebih banyak menghabiskan waktu di Jerman.

Para pengunjuk rasa sudah mengeluhkan biaya yang harus ditanggung negara karena sang raja tinggal di luar negeri, dan absen di rumahnya sendiri.

Baca juga: Plakat Menantang Raja Thailand Dicopot, Demonstran Bersumpah Akan Balas

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.