Kompas.com - 26/04/2021, 11:03 WIB
Ilustrasi Mahasiswa DOK. PIXABAYIlustrasi Mahasiswa

KOMPAS.com - Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), plagiarisme memiliki arti penjiplakan yang melanggar hak cipta. Artinya, saat kita menyadur pemikiran orang lain tanpa mencantumkan sumber, maka itu bisa masuk dalam perilaku plagiarisme.

Perilaku plagiarisme di dunia pendidikan sangat berbahaya dan menular seperti virus Covid-19. Meski demikian, hal ini bisa dicegah dan dihindari dengan menggunakan “vaksin anti virus” berupa teknologi.

Hal tersebut disampaikan dosen Fakultas Psikologi dan Direktur Center for Lifelong Learning Universitas Surabaya (Ubaya), Ide Bagus Siaputra. Ia mengatakan, ada banyak ragam penyimpangan karya ilmiah, dan plagiarisme adalah salah satunya.

Baca juga: Cara Daftar Sekolah Tinggi Intelijen Negara, Kuliah Gratis, dan Lulus Jadi CPNS

"Penyimpangan lainnya seperti fabrikasi atau menyajikan sesuatu yang tidak ada, falsifikasi atau mengubah untuk menipu, menambah atau mengurangi nama pengarang secara tidak etis, konflik kepentingan, dan publikasi berulang atas satu artikel yang sama atau pengajuan jamak,” tuturnya dalam keterangan tertulis perusahaan teknologi pendeteksi plagiarisme Turnitin kepada Kompas.com.

Secara kebijakan, papar Ide, Indonesia sudah mengambil langkah awal sejak 20 tahun yang lalu dengan menerbitkan Surat Edaran Dirjen Dikti tentang upaya pencegahan tindak plagiarisme.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ada banyak peraturan yang menyertainya, antara lain UU No 12 tahun 2002 tentang Hak Cipta, UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 17 tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiarisme di perguruan tinggi dan lainnya.

Baca juga: BUMN Bank Mandiri Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan SMA, D3, S1-S2

“Dari pengalaman kami mempromosikan integritas akademik di kampus Universitas Surabaya sejak 2012, kami menyadari kesalahpahaman antara penjiplakan, pelanggaran hak cipta dan plagiarisme sering kali menjadi penghalang ketika ingin mengupayakan perbaikan. Kenapa? Karena orang sering salah paham bahwa yang harus kita hindari adalah penjiplakan saja,” tutur peneliti yang telah memperkenalkan AKSARA (Akui, parafraSA, dan integRAsi) sebagai solusi yang dapat dicapai untuk mengurangi pelanggaran akademik ini.

Meski begitu, paparnya, teknologi kini dapat membantu mendeteksi kemiripan naskah secara tekstual sehingga bisa menghasilkan karya yang orisinal.

Blended learning dan pentingnya keterampilan digital

Di kesempatan yang berbeda, Head of Business Partnerships Southeast Asia untuk Turnitin, Jack Brazel mengatakan pandemi telah mengubah pandangan tentang bagaimana penyelenggaraan pengajaran pendidikan tinggi bisa dilakukan di mana pun.

Baca juga: 4 Program Kampus Merdeka untuk Mahasiswa, Dapat SKS hingga Dukungan Dana

Meski begitu, Ia mengatakan fungsi pendidikan selain untuk menyampaikan ilmu dan keahlian, juga penting untuk bersosialisasi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X