Kompas.com - 24/10/2020, 22:50 WIB
Pakar Virologi FKKMK UGM, M. Saifudin Hakim saat mengikuti webinar Kompas Talks bersama Kagama. Webinar Kompas Talks-KagamaPakar Virologi FKKMK UGM, M. Saifudin Hakim saat mengikuti webinar Kompas Talks bersama Kagama.

KOMPAS.com - Pakar Virologi FKKMK UGM, M. Saifudin Hakim meminta pemerintah secara transparan dalam membuka data fase ketiga terkait uji klinis vaksin Covid-19 yang datang dari 10-11 kandidat, dari total 170 vaksin yang telah diteliti sejak awal.

Bila tidak dibuka, kata Saifudin, maka akan sangat susah masyarakat maupun tenaga kesehatan mempercayai kehebatan dari vaksin tersebut.

Baca juga: Kemenag Salurkan Anggaran PJJ Rp 1,178 Triliun

"Kita akademisi dan masyarakat sudah bisa akses fase 1-2, dari situ sudah bisa melihat terkait uji klinis vaksin. Tapi fase ketiga kami belum dapat informasi sama sekali dari 10-11 kandidat vaksin," ucap Saifudin di acara webinar Kompas Talks - Kagama dengan topik "Strategi Indonesia: Keluar dari Pandemi", Sabtu (24/10/2020).

Pemilihan vaksin, kata dia, mengacu pada tingkat safety dan efikasi, sebelum vaksin itu diserbaluaskan ke masyarakat. Itu yang paling terpenting, agar tidak menjadi masalah di kemudian hari.

Dia menekankan, bila tingkat safety dan efikasi sudah terjamin di vaksin yang akan digunakan untuk memulihkan pandemi Covid-19, maka masyarakat luas tidak akan risau dan khawatir.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Semua harus dikomunikasikan ke masyarakat. Bila rakyat meminta data safety dan efikasi dari vaksin itu sangat wajar, karena yang menggunakan vaksin ini ratusan juta orang di Indonesia, bahkan hingga miliaran bila melihat pandemi ini sudah mendunia," jelas dia.

Alasan menolak vaksin Covid-19

Sangat jelas, bila ada masyarakat dan tenaga medis yang menolak tidak mau melakukan vaksin Covid-19. Pasalnya, mereka sendiri belum melihat hasil yang jelas dari uji klinis vaksin tersebut.

"Sangat wajar bertanya, mereka tolak vaksin. Bahkan sudah ada wacana pendanaan dan pendataan untuk vaksinasi di November. Itu cepat sekali, bagaimana mungkin mau diedarkan secepat itu, uji klinis vaksin itu sendiri belum selesai, bahkan hasil fase ketiga belum sampai ke tangan akademisi seperti kita ini," tegas dia.

Mungkin juga, lanjut dia, mereka yang menolak vaksin, memang sudah dari dulu tidak mau menggunakan. Karena mereka percaya dengan alam yang akan memberik kesembuhan.

Baca juga: Indah Tjahjawulan, Rektor IKJ Masa Bakti 2020-2024

"Memang banyak sekali background yang menolak vaksin, ada yang anti medis, ada yang dikembalikan ke alam, ada juga yang tidak mau di intervensi oleh kalangan manapun. Jadi memang harus ada datanya dulu, biar komunikasinya jelas, cepat, dan clear," pungkas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.