Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Kampus Merdeka dan Mewaspadai Sisi Gelap Kewirausahaan

Kompas.com - 25/03/2020, 20:19 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Penelitian Baucus et.al. (2008) memperlihatkan bahwa terdapat hubungan antara inovasi, sebagai salah satu komponen dari orientasi kewirausahaan, dengan perilaku yang tidak etis.

Baca juga: Siswa SMK Belajar Semangat Wirausaha Bersama Patner Starbucks

 

Menurutnya, dengan menumbuhkan kreativitas dan inovasi dapat meningkatkan masalah-masalah etika, seperti pelanggaran aturan, menantang otoritas, penciptaan konflik dan mengambil risiko.

Dengan kata lain, kreativitas dan inovasi dapat mendorong orang berbuat tidak etis, yang dalam hal ini terkait erat dengan aktivitas korupsi.

Hasil penelitian empiris yang lebih komprehensif ditunjukkan oleh Karmann et.al (2014). Dia meneliti 411 perusahaan di Jerman, yang bergerak di dalam industri otomotif, real estate, kimia, farmasi, elektronik, grosir, ritel dan sebagainya.

Ia mengaitkan orientasi kewirausahaan yang meliputi sikap proaktif, inovatif dan pengambilan risiko dengan korupsi yang diartikan sebagai penggunaan secara “gelap” dari kekuatan suatu posisi untuk keuntungan pribadi atau kelompok.

Hasilnya memperlihatkan bahwa sikap inovatif berhubungan secara negatif dengan perilaku korupsi.

Menurutnya, dengan menumbuhkan sikap inovatif, justru mendorong organisasi untuk mengimplementasikan pengukuran yang transparan, sehingga tidak mendorong untuk melakukan aktivitas korupsi.

Hal ini memang tidak mendukung temuan Baucus et.al. (2008) yang mengungkapkan bahwa sikap inovatif dapat mendorong orang bertindak tidak etis.

Daya saing kompetitif

Temuan lainnya adalah, sikap yang berani mengambil risiko, secara positif dan signifikan, berhubungan dengan aktivitas korupsi.

Hal ini sejalan dengan temuan-temuan empiris lainnya, yang menunjukkan bahwa sikap yang berani mengambil risiko menggerakkan organisasi untuk mencapai penerimaan yang lebih tinggi dan memenuhi tujuan yang agresif.

Ini menimbulkan tekanan yang berorientasi pada hasil dan kinerja, yang ujung-ujungnya menggerakkan organisasi untuk berperilaku tidak etis dan ilegal. Pada tingkat tertentu perilaku pengambilan risiko yang terkalkulasi secara tepat memberikan dampak positif pada kinerja perusahaan.

Satu komponen lain yaitu, sikap proaktif, ternyata tidak memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perilaku korupsi.

Perusahaan yang proaktif selalu memiliki perspektif jauh ke depan dan mencari peluang bisnis baru, sehingga mereka selalu ingin lebih maju dari pada kompetitor.

Baca juga: 10 Negara Kompetisi Wirausaha Terbaik Dunia, Berapa Rapor Indonesia?

 

Untuk itu perusahaan fokus pada pembangunan dan pengembangan daya saing kompetitif daripada mempraktikkan korupsi (Karman et.al., 2014).

Penanaman nilai luhur

Frangky Selamat, Dosen Tetap Program Studi Sarjana Manajemen Bisnis, FEB UntarDOK. UNTAR Frangky Selamat, Dosen Tetap Program Studi Sarjana Manajemen Bisnis, FEB Untar
Berbagai temuan empiris mengenai sisi gelap kewirausahaan memang harus disikapi dengan bijaksana, namun paling tidak memberikan kita cara pandang berbeda mengenai bagaimana kita menanamkan dan mempraktikkan orientasi kewirausahaan, khususnya pada diri mahasiswa.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com