Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Embun Upas Akan Muncul Kembali di Dieng, Kapan Terjadi?

Kompas.com - 21/05/2024, 15:00 WIB
Aditya Priyatna Darmawan,
Inten Esti Pratiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Embun upas yang biasanya menyelimuti dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah akan muncul kembali dalam waktu dekat.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Ahmad Yani Semarang Giyarto mengungkapkan, embun upas ini adalah fenomena yang setiap tahun terjadi di Dieng.

Secara meteorologi, kata dia, fenomena tersebut dikenal secara luas sebagai frost atau embun beku.

“Berbeda dengan salju yang terbentuk sebagai partikel presipitasi di atmosfer, embun beku merupakan fenomena munculnya butiran es di permukaan,” ujar Giyarto saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/5/2024).

Meski demikian, masyarakat lokal lebih mengenal fenomena tersebut sebagai embun upas.

Baca juga: Ramai soal Tak Ada Badai yang Melintasi Garis Khatulistiwa, Ini Kata BMKG

Waktu munculnya embun upas

Giyarto menyampaikan, fenomena tersebut umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya.

“Umumnya terjadi di musim kemarau, Juni-September,” ucap Giyarto.

Lebih lanjut, ia tidak memungkiri kemungkinan bahwa fenomena tersebut sudah muncul pada Mei akhir, meski masih sedikit.

Namun ia menekankan bahwa kemunculan embun upas diperkirakan mulai intens terjadi pada Bulan Juni dan puncaknya Agustus 2024.

Biasanya, terdapat tanda-tanda jika fenomena ini akan muncul, yakni seperti tidak ada hujan selama lebih dari tiga hari dengan diikuti langit cerah tak berawan dan tidak ada angin berembus.

Baca juga: Benarkah Erupsi Gunung Pengaruhi Hujan, Cuaca, dan Petir? Ini Penjelasan BMKG

Penyebab kemunculan embun upas

Faktor pertama yang menyebabkan kemunculan embun upas yaitu minimalnya tutupan awan di langit, yang memang terjadi pada musim kemarau.

“Sehingga tidak heran jika pada siang hari, matahari akan terasa sangat terik diiringi dengan peningkatan suhu udara,” ucap Giyarto.

Saat itu, penyinaran Matahari pada siang hari menjadi maksimum. Kemudian pada malam hari, terjadi penurunan suhu yang signifikan.

Penurunan suhu tersebut terjadi secara keberlanjutan dengan mencapai puncaknya di bawah 0 derajat Celsius pada saat sebelum Matahari terbit.

Faktor kedua yang dapat memicu kemunculan fenomena embun upas tersebut yakni kelembapan udara.

Halaman:

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com