Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AHY Jadi Menteri ATR, Ini PR yang Perlu Diperhatikan Menurut Ahli

Kompas.com - 22/02/2024, 18:00 WIB
Erwina Rachmi Puspapertiwi,
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi mengangkat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) pada Rabu (21/2/2024).

AHY akan menggantikan posisi Marsekal (Purn) Hadi Tjahjanto yang dipindah menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam).

Meski menjadi menteri ATR, AHY mengaku belum memiliki keahlian soal bidang agraria dan pertanahan.

“Jadi saya tidak datang dengan sebuah keahlian, yang ahli para dirjen, direktur, kasubdit, nah ini saya juga belum hafal. Jadi struktur pun harus saya segera ketahui,” ujarnya, diberitakan Kompas.com, Rabu (21/2/2024).

Lantas, apa saja pekerjaan rumah (PR) yang perlu diselesaikan AHY?

Baca juga: AHY Resmi Dilantik Jadi Menteri ATR/Kepala BPN, Berikut Karier dan Harta Kekayaannya


PR AHY di Kementerian ATR

Kepala Pusat Studi Agraria (PSA) Institut Teknologi Bandung (ITB) Rizqi Abdulharis mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki oleh AHY saat menjabat sebagai Menteri ATR.

Menurutnya, Kementerian ATR/BPN di bawah kepemimpinan AHY harus mengkaji serta mengembangkan kebijakan agraria dan tata ruang karena dampaknya terhadap berbagai sektor.

"Terdapat beberapa kebijakan yang sepertinya diputuskan secara terburu-buru. Karena tidak memperhatikan faktor-faktor yang mendukung seperti ketersediaan sumber daya manusia dan kelembagaan, mengakibatkan munculnya potensi permasalahan," kata Rizqi saat dihubungi Kompas.com, Kamis (22/2/2024).

Dia menambahkan, AHY juga perlu menciptakan tata kelola administrasi pertanahan yang baik, seperti pengaturan proses sertifikasi tanah.

Hal ini bisa dilakukan dengan memperbaiki pendaftaran tanah agar sesuai antara teknis, legalitas, dan kemampuan lembaganya.

"(Perlu) pemberian jaminan hukum terhadap lahan yang masih menjadi kendala," lanjut dia.

Baca juga: AHY dan Langkah Politik Jokowi Memproteksi Pemerintahan

Rizqi menegaskan, saat ini Indonesia belum memiliki jaminan hukum terhadap perebutan lahan. Akibatnya, muncul banyak isu seperti konflik perebutan tanah, bahkan mafia tanah.

Selain itu, Kementerian ATR/BPN juga perlu mengatur sistem pertanahan adat dan sosial agar inklusif serta berkelanjutan.

"Banyak daerah yang belum merevisi rencana tata ruang, sehingga pembangunan tidak dapat diarahkan secara baik," tambahnya lagi.

Dia juga menyoroti belum matangnya konsep perencanaan tata ruang berbasis kebencanaan.

Meski ada peraturan perundang-undangannya, pelaksaannya sulit dilakukan tanpa arahan yang detail.

Tak hanya konflik tanah, sistem pengelolaan yang baik juga dibutuhkan untuk laut dan udara. Rizqi menilai, kementerian perlu lebih berinovasi saat menyusun tata kelola wilayah tersebut.

"ATR/BPN diharapkan menjadi salah satu aktor mendorong terciptanya sistem ekonomi berkelanjuran dan masyarakat Indonesia yang sejahtera," pungkasnya.

Baca juga: AHY Jadi Menteri ATR/BPN, Ini Gaji, Tunjangan, dan Fasilitasnya

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Presiden Iran Ebrahim Raisi Meninggal karena Kecelakaan Helikopter, Ini Daftar Korban Lainnya

Presiden Iran Ebrahim Raisi Meninggal karena Kecelakaan Helikopter, Ini Daftar Korban Lainnya

Tren
Kaki Bayi Sehat Disebut Menunjukkan Refleks Plantar, Apa Itu?

Kaki Bayi Sehat Disebut Menunjukkan Refleks Plantar, Apa Itu?

Tren
Mengapa Presiden Iran Ikut Meresmikan Bendungan di Azerbaijan?

Mengapa Presiden Iran Ikut Meresmikan Bendungan di Azerbaijan?

Tren
Kasus Vina Cirebon, Nirbhaya New Delhi, dan 'No Viral No Justice'

Kasus Vina Cirebon, Nirbhaya New Delhi, dan "No Viral No Justice"

Tren
Kisah Ayah-Anak Berlayar ke Titik Terpencil di Dunia, Ombak dan Badai Bukan Bahaya Terbesar

Kisah Ayah-Anak Berlayar ke Titik Terpencil di Dunia, Ombak dan Badai Bukan Bahaya Terbesar

Tren
Urutan Lengkap 6 Buku Bridgerton Sesuai Kronologi Ceritanya, Beda dari Netflix

Urutan Lengkap 6 Buku Bridgerton Sesuai Kronologi Ceritanya, Beda dari Netflix

Tren
Seluruh Bagian Pesawat Hangus Terbakar, Harapan Presiden Iran Selamat Sangat Tipis

Seluruh Bagian Pesawat Hangus Terbakar, Harapan Presiden Iran Selamat Sangat Tipis

Tren
Ramai soal Pembalut Wanita Bekas Dicuci atau Langsung Dibuang, Ini Kata Dokter

Ramai soal Pembalut Wanita Bekas Dicuci atau Langsung Dibuang, Ini Kata Dokter

Tren
Helikopter yang Membawa Presiden Iran Ditemukan, Seluruh Bagian Hangus Terbakar

Helikopter yang Membawa Presiden Iran Ditemukan, Seluruh Bagian Hangus Terbakar

Tren
Benarkah Pembangunan Tol Jadi Solusi Jalanan Rawan Longsor di Sumatera Barat?

Benarkah Pembangunan Tol Jadi Solusi Jalanan Rawan Longsor di Sumatera Barat?

Tren
6 Fakta Pesawat Latih Jatuh di BSD, Sempat Hilang Kontak

6 Fakta Pesawat Latih Jatuh di BSD, Sempat Hilang Kontak

Tren
Cerita Perempuan di Surabaya, 10 Tahun Diteror Teman SMP yang Terobsesi

Cerita Perempuan di Surabaya, 10 Tahun Diteror Teman SMP yang Terobsesi

Tren
Ucapan dan Twibbon Hari Kebangkitan Nasional 2024

Ucapan dan Twibbon Hari Kebangkitan Nasional 2024

Tren
Polisi Ungkap Kronologi Pesawat Latih Jatuh di BSD Tangerang Selatan

Polisi Ungkap Kronologi Pesawat Latih Jatuh di BSD Tangerang Selatan

Tren
Kasus Covid-19 di Singapura Naik Nyaris 2 Kali Lipat, Diproyeksi Meledak Juni 2024

Kasus Covid-19 di Singapura Naik Nyaris 2 Kali Lipat, Diproyeksi Meledak Juni 2024

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com