Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Media Korsel Kritik Suporter Megawati Hangestri: Bawa Papan Berbau Politik dan Hias Bendera Nasional

Kompas.com - 08/11/2023, 12:30 WIB
Diva Lufiana Putri,
Farid Firdaus

Tim Redaksi

MHN Sports menuliskan, jika bendera negara asing dikibarkan untuk tujuan menghina negara lain, dapat dikenakan Pasal 109 KUHP Republik Korea tentang penghinaan terhadap bendera negara asing.

Meski dilakukan oleh orang asing, lantaran berada di wilayah hukum Korea, akan dihukum berdasarkan hukum pidana Korea.

Tindak pidana penghinaan mengacu pada ekspresi penghinaan terhadap negara asing dengan hukuman penjara hingga dua tahun atau denda hingga 3 juta won.

Namun, karena tujuan tindakan suporter tersebut tidak diungkap dengan jelas, sulit untuk menentukan apakah melanggar dan dapat dikenakan hukuman.

Baca juga: Sosok Megawati, Atlet Indonesia Jadi MVP di Liga Voli Korea Selatan

Red Sparks rilis aturan untuk suporter

Jung Kwan Jang Red Sparks pun merilis peraturan resmi berupa larangan untuk suporter yang akan menyaksikan Liga Voli Korea 2023/2024.

Larangan tersebut diluncurkan pada Selasa (7/11), buntut kontroversi tingkah suporter Indonesia yang mendukung Megawati Hangestri Pertiwi dan Red Sparks.

"Terlepas dari politik, agama, atau ras, pemain harus melakukan yang terbaik dalam permainan dan penggemar harus bersorak," tulis Red Sparks dalam laman resminya.

Tim asal Daejeon ini menuliskan, semangat olahraga sebenarnya adalah untuk mendorong satu sama lain terlepas apakah menang atau kalah.

Namun, peringatan keras ini tidak tertulis khusus untuk fans Megawati maupun penggemar dari Indonesia.

Baca juga: Fenomena Sologami, Tren Menikahi Diri Sendiri Mulai Marak di Korea Selatan

Berikut beberapa larangan Red Sparks untuk suporter di Liga Voli Korea:

  • Dilarang menampilkan slogan-slogan politik, frasa, dan lain-lain saat menonton pertandingan.
  • Dilarang melakukan pengrusakan dan pencemaran bendera nasional negara sendiri dan negara lain.
  • Dilarang mengkritik dan mencemooh tim atau pemain lawan.
  • Dilarang mengganggu permainan dengan senter atau flash kamera atau alat lainnya.
  • Dilarang menyemangati tim tandang di zona (area) tuan rumah.
  • Dilarang menempati tempat selain bangku penonton yang telah ditentukan dan memasuki lapangan permainan.
  • Dilarang bersorak sambil berdiri secara berlebihan, sehingga mengganggu pandangan penonton lain.
  • Dilarang merekam yang tidak etis dan tidak bermoral selama pemain melakukan pemanasan.

"Jika tidak mematuhi ketentuan ini bisa dikeluarkan secara paksa," tegas Red Sparks.

Baca juga: Apakah Berkunjung ke Korea Selatan Wajib Bawa Paspor Lama? Ini Penjelasan Atase Imigrasi KBRI Seoul

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:

Terkini Lainnya

Prakiraan BMKG: Wilayah yang Berpotensi Dilanda Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Petir 13-14 Mei 2024

Prakiraan BMKG: Wilayah yang Berpotensi Dilanda Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Petir 13-14 Mei 2024

Tren
[POPULER TREN] UKT dan Uang Pangkal yang Semakin Beratkan Mahasiswa | Kronologi Kecelakaan Bus Subang

[POPULER TREN] UKT dan Uang Pangkal yang Semakin Beratkan Mahasiswa | Kronologi Kecelakaan Bus Subang

Tren
7 Gejala Stroke Ringan yang Sering Diabaikan dan Cara Mencegahnya

7 Gejala Stroke Ringan yang Sering Diabaikan dan Cara Mencegahnya

Tren
Kecelakaan Bus SMK Lingga Kencana, Izin Kendaraan Mati, Pengusaha Harus Dipolisikan

Kecelakaan Bus SMK Lingga Kencana, Izin Kendaraan Mati, Pengusaha Harus Dipolisikan

Tren
8 Tanda Batu Ginjal dan Cara Mencegahnya

8 Tanda Batu Ginjal dan Cara Mencegahnya

Tren
400 Produk Makanan India Ditandai Mengandung Kontaminasi Berbahaya

400 Produk Makanan India Ditandai Mengandung Kontaminasi Berbahaya

Tren
Kecelakaan Maut Rombongan SMK di Subang dan Urgensi Penerapan Sabuk Pengaman bagi Penumpang Bus

Kecelakaan Maut Rombongan SMK di Subang dan Urgensi Penerapan Sabuk Pengaman bagi Penumpang Bus

Tren
'Whistleblower' Israel Ungkap Kondisi Tahanan Palestina, Sering Alami Penyiksaan Ekstrem

"Whistleblower" Israel Ungkap Kondisi Tahanan Palestina, Sering Alami Penyiksaan Ekstrem

Tren
9 Negara Tolak Palestina Jadi Anggota PBB, Ada Argentina-Papua Nugini

9 Negara Tolak Palestina Jadi Anggota PBB, Ada Argentina-Papua Nugini

Tren
Vasektomi Gratis dan Dapat Uang Imbalan, Ini Penjelasan BKKBN

Vasektomi Gratis dan Dapat Uang Imbalan, Ini Penjelasan BKKBN

Tren
Pendaftaran CPNS 2024 Diundur hingga Juni 2024, Ini Alasan Kemenpan-RB

Pendaftaran CPNS 2024 Diundur hingga Juni 2024, Ini Alasan Kemenpan-RB

Tren
Profil Jajang Paliama, Mantan Pemain Timnas yang Meninggal karena Kecelakaan

Profil Jajang Paliama, Mantan Pemain Timnas yang Meninggal karena Kecelakaan

Tren
Dampak Badai Magnet Ekstrem di Indonesia, Sampai Kapan Terjadi?

Dampak Badai Magnet Ekstrem di Indonesia, Sampai Kapan Terjadi?

Tren
Dampak Badai Matahari 2024, Ada Aurora dan Gangguan Sinyal Kecil

Dampak Badai Matahari 2024, Ada Aurora dan Gangguan Sinyal Kecil

Tren
Penelitian Ungkap Lari Bisa Menyembuhkan Patah Hati, Berapa Durasinya?

Penelitian Ungkap Lari Bisa Menyembuhkan Patah Hati, Berapa Durasinya?

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com