Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rupiah Hari Ini Dekati Rp 16.000 Per Dollar AS, Penyebab, dan Respons Sri Mulyani

Kompas.com - 24/10/2023, 14:45 WIB
Yefta Christopherus Asia Sanjaya,
Rizal Setyo Nugroho

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus melemah selama beberapa hari terakhir. 

Berdasarkan catatan Kontan, Senin (23/10/2023), nilai tukar rupiah mengalami pelemahan di level Rp 15.934 per dollar AS pada awal pekan ini atau hampir mendekati Rp 16.000 per dollar AS.

Diketahui, pelemahan rupiah terhadap dollar AS ini sudah terjadi sejak Kamis (19/10/2023). Pada saat itu, nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,43 persen ke level Rp 15.798 per dollar AS.

Baca juga: Penyebab Nilai Tukar rupiah terhadap Dollar Hampir Tembus Rp 16.000

Penyebab melemahnya rupiah terhadap dollar AS

Dikutip dari Kompas.com, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pelemahan rupiah ini juga akibat dari tekanan eksternal yang cukup kuat, yakni geopolitik Ukraina hingga Timur Tengah.

Selain itu, kondisi ini diperburuk dengan proyeksi pelambatan ekonomi China yang diprediksi hanya tumbuh 4,7 persen-4,8 persen.

"Padahal China adalah mitra dagang dan asal wisatawan mancanegara yang cukup penting bagi Indonesia," jelas dia.

Selain faktor eksternal, kondisi internal seperti isu politik dalam negeri terkait isu dinasti politik juga membuat ketidakpastian semakin tinggi.

Menurutnya, penunjukan Gibran Rakabuming Raka sebagai bakal cawapres Prabowo Subianto ini menimbulkan friksi di kalangan masyarakat.

"Pelaku pasar membaca sentimen Gibran sebagai sentimen yang negatif. Jadi, ada sentimen yang menimbulkan sikap investor untuk risk off atau menjauhi portfolio di pasar domestik," kata dia.

Hal ini berakibat pada keluarnya modal asing dari bursa saham secara terus-menerus.

Respons Sri Mulyani

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menjelaskan, pelemahan rupiah selama beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh situasi global.

Hal tersebut disampaikan Sri Mulyani usai bertemu Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin.

Ia mengatakan, salah satu pemicu rupiah melemah adalah kondisi suku bunga acuan AS yang diperkirakan akan terus merangkak naik.

Di sisi lain, Sri Mulyani juga menilai terjadi penguatan nilai dollar AS secara global.

Menghadapi situasi tersebut, pemerintah tengah mempersiapkan kebijakan yang akan menyasar nilai tukar rupiah terjadap dollar AS, inflasi, maupun sektor riil.

"Kita semua tahu fenomena global saat ini dengan AS yang menghadapi inflasi yang cukup tertahan tinggi dan kondisi ekonomi yang cukup kuat. Mereka kemudian mengeluarkan signal," ujarnya.

"Atau paling tidak dibaca market bahwa higher for longer itu akan terjadi. Dan ini yang sebabkan banyak capital flowing back to Amerika Serikat," sambung Sri Mulyani.

Baca juga: Wacana Redenominasi rupiah, Apa Risikonya?

Halaman:

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com