Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Hanif Sofyan
Wiraswasta

Pegiat literasi di walkingbook.org

Resesi Menggonggong, Si Cerdas Finansial Berlalu

Kompas.com - 16/11/2022, 08:19 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

APA cara positif menghadapi kemungkinan perubahan ekonomi? Ada yang bilang kumpulkan uang sebanyak-banyaknya dari sekarang. Jika uang bisa di-print atau diambil dari tumpukan sampah di belakang kantor Bank Indonesia, barangkali tak sulit.

Tetapi jika ekonomi memang sulit, melilit, lalu apa strategi yang paling masuk akal bisa lakukan.

Menurut kabar terbaru studi Bank Dunia, berjudul "Apakah Resesi Global Sudah Dekat?" (Is A Global Recession Imminent?), dunia berpeluang mengalami resesi pada 2023, jika perkembangan ekonomi tak kunjung membaik hingga akhir tahun 2022. Jika benar, kita memiliki waktu kurang dari dua bulan untuk bersiap.

Baca juga: Melek Finansial, Apa Saja yang Perlu Diperhatikan?

Namun sebenarnya, berbagai kesulitan ekonomi yang melilit kita, selain karena faktor transisi ekonomi paska masa sulit pandemi, juga akibat sikon perubahan ekonomi karena kenaikan harga minyak goreng, yang disusul kenaikan gas bersubsidi, dan melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM), yang makin membuat situasi tak kondusif untuk bangkit.

Namun jauh di luar faktor itu semua, sebenarnya juga berkaitan dengan pola kita dalam menyikapi uang yang selama ini kita lakukan.

Money Attitude

Pola konvensional dalam mengelola keuangan telah lama dikritisi banyak pakar keuangan. Tabungan tidak lagi sepenuhnya menjadi pilihan yang cerdas secara finansial. Apalagi jika kita tak pernah cermat mempertimbangkan kalkulasi antara jumlah tabungan dan bagi hasil atau interest yang kita terima.

Pola pikir tradisional berangkat dari konsep "kita bekerja demi uang". Sedangkan perubahan yang secara progresif terjadi, orang mulai cerdas finansial dengan memikirkan cara "uang bekerja untuk kita".

Tentu kita ingat bagaimana kontroversialnya buku Robert Kiyosaki ketika mencoba mengubah pola pikir konvensional menjadi cerdas finansial dengan menyatakan bahwa menabung sebagai cara berinvestasi yang salah.

Baca juga: Apa Itu Investasi: Pengertian, Tujuan, Jenis, dan Contohnya

Mengapa pola seperti itu berubah? Karena pada dasarnya ada keuntungan lain yang diperoleh ketika orang tak lagi sekedar menginvetasikan uangnya dalam tabungan. Alternatif investasi seperti menyimpan emas, atau membeli properti yang cermat memberikan keuntungan investasi yang berlipat ganda dan berkecenderungan minim risiko.

Pola-pola seperti inilah yang dimaksud secara garis besar sebagai money atittude atau sikap kita dalam memaknai uang. Perilaku pengelolaan keuangan dapat diartikan sebagai perilaku mengelola pendapatan atau keuangan seperti perencanaan keuangan, membuat anggaran tabungan, melakukan investasi, dan asuransi bagi individu atau keluarga.

Perilaku pengelolaan keuangan pribadi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu sikap terhadap uang (money attitude). Sikap (attitude) merupakan ukuran dari suatu pikiran, penilaian, dan pendapat seseorang tentang sesuatu yang akan memengaruhi tindakan orang tersebut.

Pengetahuan tentang keuangan dapat dijadikan sebagai variabel moderasi sikap pada uang untuk pengambilan keputusan keuangan yang benar. Kesalahan mengelola uang juga berkaitan dengan kecemasan yang timbul setelahnya.

Ilustrasi resesi, pekerjaan yang bertahan dan terancam saat resesi 2023.Shutterstock/Gguy Ilustrasi resesi, pekerjaan yang bertahan dan terancam saat resesi 2023.
Alternatif Paling Minimal

Ada kalanya orang menggunakan uang sebagai alat untuk menunjukkan kuasa. Dalam situasi seperti ini, orang cenderung menghamburkan uang tanpa mempertimbangkan apakah selanjutnya uang tersebut dapat terus bertahan. Atau justru akan membuatnya berada di ambang kebangkrutan.

Begitu juga ada kelompok lain yang memiliki kecenderungan untuk terlalu berhati-hati dalam menggunakan uang. Selalu diliputi ketakutan jika melakukan overpaying, atau melakukan jenis investasi yang penuh risiko. Ia tak pernah bisa memercayai siapa pun karena kekhawatiran orang tak bisa menjaga uang yang diinvetasikannya.

Baca juga: The Fed Jadi Pemicu Perekonomian Global Terancam Resesi?

Di sisi lain, terdapat kelompok orang yang orientasinya tak peduli risiko. Berspekulasi dalam mengelola uangnya, namun juga disertai sedikit kehati-hatian.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Manusia Tak Kalah dari Kecerdasan Buatan, Foto Asli Menang di Kompetisi Fotografi Kategori AI

Manusia Tak Kalah dari Kecerdasan Buatan, Foto Asli Menang di Kompetisi Fotografi Kategori AI

Tren
Catat, Ini Daftar Buah-Sayuran Penurun Kolesterol dan Asam Urat

Catat, Ini Daftar Buah-Sayuran Penurun Kolesterol dan Asam Urat

Tren
Mengintip Kondisi 7 Ibu Kota Negara yang Pernah Pindah

Mengintip Kondisi 7 Ibu Kota Negara yang Pernah Pindah

Tren
Sederet Momen Sapi Mengamuk Saat Idul Adha 2024, Jatuh ke Sumur dan Seruduk Bocah

Sederet Momen Sapi Mengamuk Saat Idul Adha 2024, Jatuh ke Sumur dan Seruduk Bocah

Tren
Bukan Lumba-lumba, Ini Hewan Paling Bahagia di Dunia karena Selalu Tersenyum

Bukan Lumba-lumba, Ini Hewan Paling Bahagia di Dunia karena Selalu Tersenyum

Tren
Manfaat Minum Teh Melati untuk Menurunkan Risiko Diabetes Tipe 2

Manfaat Minum Teh Melati untuk Menurunkan Risiko Diabetes Tipe 2

Tren
Prakiraan BMKG: Inilah Wilayah yang Masih Dilanda Hujan Lebat 18-19 Juni 2024

Prakiraan BMKG: Inilah Wilayah yang Masih Dilanda Hujan Lebat 18-19 Juni 2024

Tren
Rekor Sapi Termahal di Dunia Harganya Mencapai Rp 65 Miliar

Rekor Sapi Termahal di Dunia Harganya Mencapai Rp 65 Miliar

Tren
[POPULER TREN] Cara Melihat Rating Penumpang Gojek dan Grab | Cara Simpan Daging di Kulkas agar Tahan Lama

[POPULER TREN] Cara Melihat Rating Penumpang Gojek dan Grab | Cara Simpan Daging di Kulkas agar Tahan Lama

Tren
Kilas Balik TWK KPK yang Disebut Gagalkan Penangkapan Harun Masiku pada 2021

Kilas Balik TWK KPK yang Disebut Gagalkan Penangkapan Harun Masiku pada 2021

Tren
Kesaksian Warga Palestina Rayakan Idul Adha di Tengah Perang, Jadi Hari Paling Menyedihkan

Kesaksian Warga Palestina Rayakan Idul Adha di Tengah Perang, Jadi Hari Paling Menyedihkan

Tren
Bisakah Daging Kurban Dimasak Medium Rare seperti Steak? Ini Kata Chef

Bisakah Daging Kurban Dimasak Medium Rare seperti Steak? Ini Kata Chef

Tren
Cara Melihat Rating Penumpang Gojek dan Grab, Ketahui Risiko Nilai Buruk

Cara Melihat Rating Penumpang Gojek dan Grab, Ketahui Risiko Nilai Buruk

Tren
Sama-sama Bermanfaat bagi Tanaman, Apa Beda Pupuk Kompos dan Urea?

Sama-sama Bermanfaat bagi Tanaman, Apa Beda Pupuk Kompos dan Urea?

Tren
Kominfo Ancam Tutup Twitter, Amankah Membuka Aplikasi yang diblokir?

Kominfo Ancam Tutup Twitter, Amankah Membuka Aplikasi yang diblokir?

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com