Agnes Setyowati
Akademisi

Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Pakuan, Bogor, Jawa Barat. Meraih gelar doktor Ilmu Susastra dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Aktif sebagai tim redaksi Jurnal Wahana FISIB Universitas Pakuan, Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat  Bogor, dan anggota Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara). Meminati penelitian di bidang representasi identitas dan kajian budaya.

KKN di Desa Penari: Membaca Persoalan Gender Melalui Budaya Populer

Kompas.com - 16/05/2022, 11:39 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

FILM horor besutan sutradara Awi Suryadi yang berjudul KKN di Desa Penari berhasil menyandang gelar film horor terlaris sepanjang sejarah dengan lebih dari 5 juta penonton sejak tayang perdana pada 30 April 2022 hingga saat ini.

Meski sempat tertunda penayangannya selama dua tahun akibat pandemi Covid-19, film rilisan MD Pictures ini berhasil mengubah konfigurasi urutan film terlaris di Indonesia sepanjang sejarah.

Film tersebut melampaui jumlah penonton film Pengabdi Setan (2017) besutan sutradara Joko Anwar yang sebelumnya sempat menyandang predikat sebagai film horor terlaris.

Sinopsis film

Diangkat dari kisah nyata yang viral melalui thread di akun twitter @simpleman tahun 2019 lalu, film ini bercerita tentang lima orang mahasiswa: Nur (Tissa Biani), Ayu (Aghniny Haque), Widya (Adinda Thomas), Bima (Achmad Megantara), Wahyu (Fajar Nugraha), dan Anton (Calvin Jeremy) yang melakukan kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) di desa terpencil.

Sejak awal kedatangan mereka di desa tersebut, Nur dan Widya sudah merasakan hal-hal yang mistis.

Nur sempat melihat sosok mahluk hitam besar dan berbulu, sementara Widya mendengar suara gamelan di tengah hutan di perjalanan menuju desa tempat mereka melakukan KKN.

Seiring berkembangnya alur cerita, teman-teman mereka kerap mengalami teror mistis dari sesosok penari bernama Badarawuhi (Aulia Sarah).

Badarawuhi dipercaya masyarakat sebagai iblis penguasa desa gaib yang berdampingan dengan desa mereka.

Ayu terperangkap di dunia gaib dan dijadikan Dawuh (gelar untuk penari) yang harus menari sepanjang waktu dengan kostum penari.

Sementara Bima digambarkan bercinta dengan Ayu dan juga Badarawuhi di tapak tilas (wilayah yang diyakini sebagai Desa Penari).

Di akhir cerita, Bima dan Ayu harus meregang nyawa akibat tidak bisa menjaga sikap selama berada di desa tersebut.

Mereka melakukan hubungan seksual atau berzina di tapak tilas dan bersekutu dengan jin.

Representasi perempuan dalam film horor Indonesia

Perempuan sebagai sosok hantu bisa dibilang cukup banyak ditemukan di film horor di Indonesia (tidak terkecuali di film ini).

Kita bahkan memiliki sosok ikonik Suzanna Martha Frederika van Osch yang hingga saat ini kita kenal sebagai ‘Ratu Horor Indonesia’.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.