Kompas.com - 05/07/2021, 10:30 WIB
Ilustrasi hoaks. KOMPAS.com/AKBAR BHAYU TAMTOMOIlustrasi hoaks.
Penulis Tim Cek Fakta
|
EditorTim Cek Fakta
hoaks

hoaks!

Berdasarkan verifikasi Kompas.com sejauh ini, informasi ini tidak benar.

KOMPAS.com – Sebuah pesan yang menyebut bahwa setiap kali pasien batuk dan pilek, kemudian periksa di rumah sakit akan dicovidkan menyebar di media sosial Facebook.

Dari konfirmasi yang dilakukan Kompas.com, informasi yang menyebar mengenai adanya pasien batuk, pilek yang periksa di rumah sakit akan dicovidkan adalah informasi yang tidak benar.

Narasi yang beredar

Di media sosial menyebar mengenai informasi adanya pesan yang meminta agar masyarakat yang sakit tidak datang ke rumah sakit.

Hal ini karena jika ada gejala pada tubuh yang meliputi batuk, pilek, meriang, dan hilangnya indera penciuman disebut akan divonis Covid jika datang ke rumah sakit.

Informasi tersebut salah satunya diunggah oleh akun Facebook Mas Haryanto S N.

"Monggo bisa disebarluaskan kepada keluarga, sedulur, konco dan siapa saja..berhubung sekarang masuk panca roba (mongso sepuluh), ketika ada gejala pada tubuh seperti batuk, pilek, meriang, panas, hilangnya indera penciuman dan perasa dll..jangan terburu-buru kerumah sakit..Karena ketika diperiksa pasti akan divonis reaktif bahkan positif covid..Sehingga saat divonis pasti kondisi mental jadi down, sehingga kondisi imun tambah melemah.. Yang seharusnya bukan covid karena ter sugesti dan takut jadinya di bilang covid. Hati2...," demikian narasi yang dibagikan akun itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hoaks batuk pilek akan dicovidkantanngkapan layar Facebook Hoaks batuk pilek akan dicovidkan

Konfirmasi Kompas.com

Terkait dengan menyebarnya informasi tersebut, Kompas.com menghubungi Kepala Humas Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Anjari Umarjianto.

Saat dihubungi pihaknya mengatakan tuduhan demikian adalah tidak benar.

Ia menjelaskan dalam menentukan apakah pasien terkonfirmasi Covid-19 atau tidak terdapat sejumlah kriteria yang harus dipenuhi.

"Kan ada pemeriksaan lab-nya, ada pemeriksaan klinisnya, baru kemudian seseorang itu bisa ditentukan bahwa dia terinfeksi Covid-19 atau tidak, jadi tidak asal begitu saja. Semua dengan standar kriteria," kata Anjari dikutip dari Kompas.com, Jumat (2/7/2021).

HOAKS ATAU FAKTA?

Jika Anda mengetahui ada berita viral yang hoaks atau fakta, silakan klik tombol laporkan hoaks di bawah ini

closeLaporkan Hoaks checkCek Fakta Lain
Berkat konsistensinya, Kompas.com menjadi salah satu dari 49 Lembaga di seluruh dunia yang mendapatkan sertifikasi dari jaringan internasional penguji fakta (IFCN - International Fact-Checking Network). Jika pembaca menemukan Kompas.com melanggar Kode Prinsip IFCN, pembaca dapat menginformasikannya kepada IFCN melalui tombol di bawah ini.
Laporkan
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.