Tren Fesyen Sarung Masih Panjang, dari Kesan Formal Menuju Kasual

Kompas.com - 03/03/2021, 20:25 WIB
Koleksi-koleksi kain yang dipamerkan di Museum La Galigo, Kota Makassar, Rabu (11/2/2015). Di sebelah kiri terlihat kain tenun dari Toraja dan di sebelah kanan merupakan kain sarung. KOMPAS.com / Wahyu Adityo ProdjoKoleksi-koleksi kain yang dipamerkan di Museum La Galigo, Kota Makassar, Rabu (11/2/2015). Di sebelah kiri terlihat kain tenun dari Toraja dan di sebelah kanan merupakan kain sarung.

KOMPAS.com - Hari Sarung Nasional telah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo dan diperingati setiap tanggal 3 Maret.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada masa pandemi ini peringatan sepi dari perayaan fesyen.

Namun meskipun demikian, sejumlah desainer masih banyak yang menggunakan kain sarung untuk karya-karya mereka. 

Mengangkat sarung dari bahan jeans

Salah satu desainer yang konsen pada bahan kain sarung adalah Sudarna Suwarsa.

Desainer asal Semarang ini berkecimpung dengan bahan kain sarung sebagai inspirasi karyanya sejak tahun 2016. Meski awalnya merasa aneh mengolah sarung, namun akhirnya ia bisa menemukan celah kecocokkan ketika mendesain maupun mengenakan sarung.

Ia kini sudah tak segan mengenakan sarung kemana saja. Baik ketika mengikuti agenda Indonesian Fashion Chamber (IFC), memberi pelatihan bersama kementerian, maupun ketika melenggang ke pesta atau acara-acara pribadi. 

Baca juga: Bupati-Wabup Jember Terpilih Pakai Sarung ke Sidang Paripurna, Ini Alasannya

Menolak bentuk konvensional, Sudarna menciptakan sarung modern yang terbuat dari bahan tenun, batik, ataupun bahan denim. Bahkan, celana jeans usang miliknya, ia rombak habis-habisan.

"Saya lepas jahitannya, kemudian saya sambung-sambung menjadi bentuk sarung," ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (3/3/2021).

Sudarna sendiri tak membatasi jenis bahan yang akan ia jahit menjadi sarung. Menurutnya, sarung sudah masuk ranah fesyen modern, sehingga tak lagi ada batasan kaku di dalamnya.

Dari formal ke kasual

Sarung awalnya hanya dipakai pada acara-acara keagamaan atau upacara adat. Lebih jauh ke belakang, konon katanya di masa penjajahan Belanda, sarung digunakan sebagai simbol untuk melawan masuknya arus budaya barat.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X