Ilmuwan WHO Sebut Kehidupan Tak Akan Kembali Normal hingga 2022

Kompas.com - 18/09/2020, 08:04 WIB
Pasien positif Covid-19 orang tanpa gejala (OTG) memasuki bus sekolah menuju Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet untuk di karantina, Kamis (17/9/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengetatkan kembali pembatasan sosial berskala besar, per senin 14 september. Pasien positif Covid-19 tanpa gejala (orang tanpa gejala/OTG) yang sebelumnya bisa menjalani isolasi mandiri di rumah, saat ini harus dikarantina di tempat isolasi pemerintah, seperti di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPasien positif Covid-19 orang tanpa gejala (OTG) memasuki bus sekolah menuju Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet untuk di karantina, Kamis (17/9/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengetatkan kembali pembatasan sosial berskala besar, per senin 14 september. Pasien positif Covid-19 tanpa gejala (orang tanpa gejala/OTG) yang sebelumnya bisa menjalani isolasi mandiri di rumah, saat ini harus dikarantina di tempat isolasi pemerintah, seperti di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet.

KOMPAS.com - Seorang ilmuwan ternama di Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) Soumya Swaminathan mengungkapkan, kecil kemungkinan dunia akan kembali seperti sedia kala (sebelum era pandemi) hingga 2022.

Dilansir dari Fox News, (17/9/2020), menurut Swaminathan, meski saat ini vaksin tengah dikembangkan di seluruh dunia, namun jika vaksin telah tercipta dan diberikan kepada semua orang, dunia tidak akan langsung kembali normal.

"Cara orang membayangkannya yakni orang-orang memiliki vaksin untuk seluruh dunia pada Januari 2021, dan setelah itu semua mulai kembali normal. Bukan seperti itu cara kerjanya," ujar kepala ilmuwan WHO ini.

Baca juga: Update Vaksin Covid-19 di Seluruh Dunia, dari Rusia hingga Inggris

Ia menunjukkan bahwa garis waktu paling realistis menempatkan peluncuran vaksin Covid-19 selama pertengahan 2021 dan imunisasi tidak akan terjadi dalam semalam.

Selain itu, pemakaian masker dan menjaga jarak sosial juga masih diperlukan setelahnya.

Mengenai vaksin, Swaminathan mengatakan, pihaknya membutuhkan 60 hingga 70 persen populasi yang memiliki kekebalan sebelum terjadi penurunan dramatis dalam penularan virus ini.

Baca juga: Saat Masker Disebut Lebih Efektif Cegah Covid-19 Dibanding Vaksin...

Adapun tindakan ini diperlukan lantaran ia tidak mengetahui berapa lama vaksin akan melindungi manusia.

"Kami juga tidak tahu berapa lama vaksin ini akan melindungi. Hal ini juga menjadi tanda tanya besar. Berapa lama kekebalan bertahan? Dan mungkin saja Anda membutuhkan penguat," ujar Swaminathan.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X