100 Dokter Meninggal akibat Covid-19, Apa Saja Dampaknya?

Kompas.com - 01/09/2020, 11:30 WIB
Foto tertanggal 6 Mei 2020 menunjukkan penggali makam di pemakaman Pondok Ranggon, Jakarta Timur, mengubur korban meninggal Covid-19. Pondok Ranggon merupakan salah satu dari dua pemakaman khusus korban meninggal Covid-19 di Jakarta. Setidaknya ada 50 pekerja di pemakaman Pondok Ranggon, mereka bekerja 15 jam per hari, 7 hari per minggu, dan gaji bulanan Rp 4,2 juta. AFP/ADEK BERRYFoto tertanggal 6 Mei 2020 menunjukkan penggali makam di pemakaman Pondok Ranggon, Jakarta Timur, mengubur korban meninggal Covid-19. Pondok Ranggon merupakan salah satu dari dua pemakaman khusus korban meninggal Covid-19 di Jakarta. Setidaknya ada 50 pekerja di pemakaman Pondok Ranggon, mereka bekerja 15 jam per hari, 7 hari per minggu, dan gaji bulanan Rp 4,2 juta.

KOMPAS.com - Enam bulan sejak laporan kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020, kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 174.796 kasus.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.417 orang meninggal dunia. Sementara 125.959 orang dinyatakan pulih.

Dari jumlah korban meninggal tersebut, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat lebih dari 100 dokter yang gugur dalam melawan virus corona jenis baru atau SARS-CoV-2 hingga Selasa (1/9/2020).

Baca juga: Update Virus Corona di Dunia 1 September: 25,6 Juta Orang Terinfeksi | Warning WHO soal Pembukaan Ekonomi

Adapun nama-nama dokter tersebut berasal dari sejumlah daerah yang tersebar di Jawa, Sulawesi, Bali, Sumatera, Kalimantan, Kepulauan Riau, hingga Papua.

Berkaca dari ratusan dokter yang meninggal karena Covid-19 tersebut, apa saja dampaknya?

Beban mental dokter lain

Sekretaris Tim Audit dan Advokasi Kematian Dokter PB IDI, Dr dr Mahlil Ruby mengatakan, ada beberapa dampak yang ditimbulkan berkaitan dengan meninggalnya seratusan dokter karena Covid-19.

Ruby menyampaikan, para dokter yang meninggal bukan hanya dokter yang menangani pasien Covid-19 saja, tetapi juga yang tidak khusus melayani Covid-19.

Oleh karenanya, hal itu merugikan negara karena kehilangan putra-putri terbaik yang dididik belasan tahun untuk menjadi dokter yang handal.

"Investasi pendidikan dokter cukup mahal. Apa lagi banyak dokter yang gugur sebagai super spesialis atau konsultan spesialis. Mendidik seorang dokter sampai menjadi super spesialis butuh waktu 12-15 tahun. Sehingga negara sesungguhnya rugi karena kehilangan tenaga-tenaga profesional untuk melayani rakyat," kata Ruby saat dihubungi Kompas.com, Selasa (1/9/2020).

Baca juga: Ramai Tagar Indonesia Terserah, Apakah Tenaga Medis Menyerah?

Dampak berikutnya, lanjut Ruby, dari meninggalnya seratusan dokter karena terinfeksi Covid-19 ini adalah berkaitan dengan beban mental dokter lain.

Halaman:
Baca tentang

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X